Papua No. 1 News Portal | Jubi
Sentani, Jubi – Aksi Pemalangan jalan masuk ke Pasar Pharaa Sentani, Kabupaten Jayapura-Papua dan jalan samping toko Gali Mas oleh Ikatan Keluarga Besar Mellam Hollokhabam, Kamis (17/9/2020), berdampak pula pada pendapatan para penjual ikan dan ayam potong.
Sandi, pria asal Makassar yang sehari-hari berjualan ikan laut di Pasar Pharaa Sentani, harus merugi karena sepi pembeli.
“Kalau kami para penjual bisa masuk ke pasar, cuman ya itu, pembeli tidak bisa masuk karena akses jalan masuk ke pasar dipalang. Saya sudah dari pagi di pasar tapi sepi pembeli,” kata Sandi kepada Jubi di Sentani, Kamis (17/9/2020).
Sandi menuturkan dalam sekali berjualan ia biasa membawa tiga ember, berisi ikan dari ukuran kecil hingga besar.
“Dari tadi pagi sampai jam 10 itu pembeli cuma ada dua atau empat saja. Empat ember itu biasa bisa habis dua atau tiga hari, tapi ini satu ember saja masih ada di atas meja. Ember yang lain belum dikorek,” katanya.
Sandi menambahkan pendapatannya sangat tidak bisa dipastikan karena pemalangan yang terjadi dari pukul 12 malam hingga jam 9 pagi tersebut.
“Tidak tahu ini nanti dapat berapa soalnya kami berjualan hanya setengah jam begitu kami cuman berharap itu hal palak-memalak ini jangan terjadi lagi,” kata Sandi.
Baca juga: Jalan masuk Pasar Pharaa dipalang, pedagang mengaku rugi
Penjual ayam potong, Herman, mengatakan dalam situasi normal, dia biasa membawa 70-80 ekor ayam. Namun dengan pemalangan tersebut, ia kurangi stok.
“Hari ini saya cuman bawa 40 ekor saja. Ini juga masih ada banyak sisa di meja. Pembeli baru mulai ramai jam 10 pagi, setelah palang dibuka,” ucapnya.
Meski pemalangan akses masuk ke Pasar Pharaa Sentani, hanya terjadi beberapa jam namun pengaruhnya ke para pedagang, termasuk penjual ayam potong, sangat terasa.
“Pembeli baru ramai jam 11 siang, jadi saya mau bilang bisa kejar modal juga belum bisa, karena kami buka dari pagi tapi siapa yang mau beli, sedangkan pembeli ada di luar sana, jadi dari berjualan 40 ekor ini berapa yang bisa masuk itu tidak bisa dipastikan sekali,” kata pria asal Bugis ini.
Herman berharap agar persoalan ganti rugi bisa segera diselesaikan supya pemalangan seperti ini tidak terjadi lagi.
“Kami berharap itu tolong diselesaikan agar aktivitas ini berjalan dengan baik dan kalau ada masalah itu bicaranya dengan pemda agar ada titik terangnya,” harap Herman.
Tiga akses jalan masuk ke Pasar Pharaa Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, sejak Kamis (17/9/2020) dini hari dipalang. Akibatnya, para pedagang yang sebagian besar datang dari Genyem, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, yang sudah datang sejak pukul 2 dini hari, harus tertahan di depan Hotel Metta Star dan Tabita.
Karena belum bisa masuk ke Pasar Pharaa, para pedagang diarahkan untuk menggelar dagangannya di lapangan upacara Kantor Bupati Jayapura di Gunung Merah-Sentani.
Hingga berita ini dirilis, belum ada penjelasan dari pihak yang melakukan pemalangan akses masuk ke Pasar Pharaa Sentani.
Informasi yang berhasil dihimpun Jubi di lapangan, aksi pemalangan dilakukan oleh Ikatan Keluarga Besar Mellam Hollokhabam kerena ketiga tanah hak ulayat yang diklaim milik mereka tersebut, hingga kini belum dibayarkan oleh pemerintah. (*)
Editor: Dewi Wulandari






