Sekolah daring di Kabupaten Jayapura tidak efektif

papua covid-19 belajar online
Foto ilustrasi, siswa salah satu SMA di Jayapura sedang mengikuti pembelajaran online dari rumah dengan gawai – Dok. Pribadi.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Di sejumlah lokasi Kabupaten Jayapura, Papua, kegiatan belajar mengajar pada masa pandemi COVID-19 yang dilakukan secara daring tidak bisa berjalan secara efektif. Banyak siswa dan orangtua siswa Sekolah Dasar di kawasan Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, tidak memahami tata cara bersekolah secara daring.  

Kegiatan belajar mengajar secara daring juga terhenti sejak gangguan internet terjadi di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura pada akhir April lalu. Meski kini layanan internet di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura telah pulih, banyak siswa yang sudah pernah mengikuti kegiatan belajar mengajar secara daring belum kembali bersekolah secara daring.

Read More

Kondisi itu dituturkan Anes Ibo, salah satu orangtua siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Jayapura. Menurutnya, anak-anak kini lebih memilih ikut orangtua mereka mencari dan bermain di hutan sagu. Menurutnya, semangat anak-anak SD bersekolah semakin berkurang sejak kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring.

Baca juga: Internet mati di Jayapura, bagaimana belajar online?

“Guru-guru mereka tidak fokus mengajar di kampung sejak [pandemi] COVID-19. Tambah lagi jaringan [internet] mati [pada akhir April lalu]. [Sekolah] online juga online mana yang dipasang? Banyak anak murid yang belum paham,” kata Ibo kepada Jubi di Sentani, Rabu (26/6/2021).

Ibo meminta agar daerah perkampungan yang tidak terdampak COVID-19 tidak lagi membatasi kegiatan belajar mengajar. “Baiknya dinormalkan saja. Anak-anak mau ke sekolah, tapi kalau dengan keadaan seperti itu, anak-anak malas masuk sekolah,” jelasnya.

Ibo membenarkan bahwa jaringan internet telah tersedia di banyak lokasi di Kabupaten Jayapura. Akan tetapi para murid tidak tahu tata cara bersekolah secara daring.

“Ini di kampung-kampung, di tingkat SD dan SMP, [para murid] belum tahu [tata cara bersekolah daring]. Seperti di SD Kameyaka, Yoboi sudah mulai berjalan. Di Simporo dan Babrongko, ketika ditanya, anak-anak mereka bilang penguat [sinyal] saja yang terpasang. Apabila terpasang, apakah anak-anak tahu atau tidak tanpa diajari [tata cara bersekolah secara daring]?” Ibo bertanya.

Menurutnya, siswa sekolah di kampung membutuhkan pendampingan untuk dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar secara daring. Akan tetapi, tidak semua orangtua siswa dapat mendampingi anaknya bersekolah secara daring.

Baca juga: Siswa SMA di Jayapura mulai bosan belajar online, begini solusi guru

“Memang anak-anak [itu kalau] dilihat, [banyak yang] pegang telepon selular. Tapi dia tahu atau tidak sistem pendidikan online itu? Kalai ada kampung [yang] bebas COVID-19, jalan saja pendidikan [secara tatap muka],” kata Ibo berharap.

Ibo berharap kegiatan belajar mengajar secara bertatap muka dapat dijalankan lagi, karena pendidikan sangat penting bagi anak-anak. “Pendidikan itu jendela dunia, jadi pendidikan harus aktif kembali. [Pola sekolah sekarang] tidak baik sekali,” tuturnya.

Salah satu siswa yang ditemui di Kampung Yoboi, Paula mengaku banyak teman-temannya malas belajar sejak sekolah ditutup karena pandemi COVID-19. “Anak-anak itu, macam dorang sudah pemalas ke sekolah. Libur yang panjang juga sejak [pandemi] COVID-19, sampai internet mati. Saya berharap aktivitas belajar mengajar normal kembali,” ujar Paula. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Related posts

Leave a Reply