
Papua No.1 News Portal | Jubi
Sentani, Jubi – Kakao masih berpotensi menjadi komoditas pertanian andalan di Kabupaten Jayapura. Luas penanamannya saat ini mencapai sekitar 9,5 ribu hektare.
Areal penanaman kakao tersebar di 19 distrik. Adapun lokasi pengembangannya,saat ini diprioritaskan di Wilayah Pembangunan III Kabupaten Jayapura. Wilayah itu meliputi Distrik Kemtuk, Kemtuk Gresi, Gresi Selatan, Nimboran, dan Namblong.
“Kami mencanangkan (menetapkan) wilayah pembangunan III sebagai sentra pengembangan kakao. Potensinya sangat luar biasa,” kata Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, Rabu (4/12/2019).
Di Distrik Kemtuk, terdapat lebih dari 2 hektare lahan yang dicadangkan sebagai areal baru penanaman kakao. Lokasinya berada di Kampung Klaisiu, yang kemudian ditetapkan sebagai salah satu sentra pengembangan kakao di Kabupaten Jayapura.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura juga mencadangkan lahan pengembangan kakao di Distrik Nimbor. Luasannya sekitar 1-2 hektare di setiap kampung.
“Kakao menjadi komoditas andalan daerah pada 5-10 tahun lalu. Produksinya kemudian menurun akibat serangan hama sehingga banyak petani menebang pohon kakao,” jelas Bupati Awoitauw.
Dia mengatakan potensi kakao yang ada saat ini terus dikembangkan sebagai sumber perekonomian warga kampung. Pemkab Jayapura dipastikan selalu mendukung upaya pengembalian kejayaan kakao.
Ketua Kelompok Petani Kakao Kampung Gemebs di Distrik Nimboran Yahanes Waricu mengaku usaha mereka mengalami pasang-surut dalam beberapa tahun terakhir. Perhatian pemerintah daerah minim, upaya petani untuk menanam kembali kakao juga sangat rendah.
“Saat ini kami menghidupkan (merintis) kembali pengembangan kako dengan dukungan dana desa. (Wilayah) Lembah Grimenawa ini merupakan penghasil kakao terbaik di Kabupaten jayapura,” kata Waricu. (*)
Editor: Aries Munandar






