Papua No. 1 News Portal | Jubi
Sentani, Jubi – Selama 60 tahun, jalan raya sepanjang 35 kilometer yang menghubungkan Distrik Demta dan Kampung Worembain di Kabupaten Jayapura, Papua, tidak pernah diaspal. Jalan raya itu merupakan jalan provinsi, sehingga Pemerintah Kabupaten Jayapura tidak berwenang untuk memperbaiki jalan itu.
Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw mengatakan pihaknya telah berulang kali berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua, meminta pengaspalan jalan penghubung Distrik Demta dan Kampung Worembain. Akan tetapi, permintaan itu tidak pernah dipenuhi.
Menurutnya, jalan provinsi sepanjang 35 kilometer penting, karena menjadi urat nadi perkebunan kelapa sawit di Distrik Demta. “Jalan Demta digunakan perusahaan kelapa sawit di Lereh untuk mengirim minyak mentah kelapa sawit keluar Papua. Hasil pajaknya lebih banyak diterima oleh Pemerintah Provinsi Papua dan [pemerintah] pusat,” ujar Awoitauw di Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura, Selasa (12/1/2021).
Baca juga: Jalan raya dan jembatan penghubung Sentani – Depapre dibiarkan rusak parah
Awoitauw menyatakan sejak sembilan tahun terakhir pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua, meminta perbaikan dan peningkatan kondisi jalan di Distrik Demta itu. Ia mengaku juga telah melaporkan kondisi jalan di Distrik Demta itu kepada Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Jhon Wempi Wetipo.
Menurut Awoitauw, Distrik Demta memiliki beragam potensi sumber daya alam (SDA), seperti potensi pertanian, perikanan, perkebunan, dan pariwisata. Akan tetapi, kondisi jalan penghubung Distrik Demta dan Kampung Worembain membuat berbagai potensi itu tidak berkembang.
“Masyarakat Demta sudah datang kepada kami di Gunung Merah, kami fasilitasi lalu bertemu langsung dengan pemerintah provinsi. Sampai hari ini belum ada hasil,” keluh Awoitauw.
Baca juga: Warga keluhkan kondisi jalan dan pemanfaatan dana desa
Awoitauw menerima informasi bahwa seluruh program pembangunan infrastruktur difokuskan untuk membangun aksesibilitas di wilayah pegunungan tengah Papua. Ia mengingatkan, persoalan aksesibilitas juga banyak terjadi di kawasan dataran rendah Papua, termasuk di Distrik Demta dan Distrik Depapre di Kabupaten Jayapura.
Jika kondisi jalan di Distrik Demta dan Distrik Depapre tidak diperbaiki, warga Demta dan Depapre tidak akan bisa mendapat manfaat dari keberadaan Kabupaten Jayapura sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua.
“Sebagai tuan rumah [PON], akses jalan sangat penting. Tidak hanya perhelatan olahraganya, [potensi] kunjungan [kontingen PON] ke tempat wisata perlu mendapat perhatian serius juga,” ungkapnya.
Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jayapura, Piet Harianto Soyan yang berasal dari Daerah Pemilihan di Demta menyatakan buruknya kondisi jalan di Distrik Demta sudah berlangsung sejak lama. Menurut Soyan, kondisi itu berdampak bagi masyarakat di Distrik Demta dan kampung-kampung yang berada di kawasan pesisir laut.
Soyan juga menjelaskan berbagai hasil perkebunan dan perikanan di Demta, seperti buah mangga dan ikan, tidak dapat dipasarkan. Berbagai komoditas itu kerap rusak dalam proses pengiriman ke pasar.
“Buah mangga, biasanya masyarakat membawa sekitar 500 buah ke kota. Yang tersisa sampai di pasar hanya 200-300 buah. Lainnya rusak dan busuk dijalan. Demikian pula ikan, banyak yang dibuang di tengah perjalanan karena sudah tidak layak untuk dikonsumsi,” katanya.
Soyan juga mengeluhkan para warga Demta yang kesulitan untuk berobat, karena harus melintasi jalanan yang rusak berat. “Kami sudah datang jauh-jauh ke provinsi, juga menyurati Bupati Jayapura. Sampai sekarang belum ada jawaban apapun dari kedua belah pihak,” ujar Soyan.(*)
Editor: Aryo Wisanggeni G






