Harga sayur di Pasar Hamadi naik akibat banjir

Pedagang di Pasar Hamadi Kota Jayapura Papua
Seorang pedagang komoditas pertanian di Pasar Hamadi sedang merapikan barang dagangannya - Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayaura, Jubi – Banjir yang terjadi di Arso, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua pekan lalu berdampak naiknya harga sayur mayur di Pasar Hamadi, Kota Jayapura.

Berbagai macam jenis sayuran seperti sawi putih, daun sinkong, kangkung cabut, bayam merah, kacang panjang, kol, terong, buncis, tomat, dan lombok mengalami kenaikan harga.

Read More

Hujan dengan intensitas tinggi dakam sepekan terakhir merendam lahan pertanian warga di Arso, Kabupaten Keerom, yang mengakibatkan gagal panen.

Seorang pedagang komoditas pertanian di Pasar Hamadi, Mustika, mengatakan kenaikan harga sayur mayur tersebut rata-rata mencapai Rp5 ribu sehingga dijual Rp10 ribu per satu ikat.

Kecuali komoditas pertanian seperti kol, terong, buncis, dan tomat serta lombok mengalami kenaikan cukup drastis. Terong misalnya, dari Rp 80 ribu satu karung naik menjadi Rp 120 ribu satu karung.

Buncis dari Rp20 ribu per kilogram naik menjadi Rp35 ribu. Tomat dari Rp10 ribu per kilogram naik menjadi Rp20 ribu. Lombok dari Rp80 ribu per kilogram naik menjadi Rp120 ribu.

Selain mengalami kenaikan harga, Mustika menyebut stok dari komoditas pertanian tersebut mengalami kelangkaan akibat minimnya hasil panen dari petani, yang sebagian besar berada di wilayah Koya (Kota Jayapura) dan Arso di Kabupaten Keerom.

“Tomat kosong sama sekali. Ini saya jual tomat kiriman, kalau dari kota Jayapura dan Keerom tidak ada stok. Kalau penjualan lancar,” ujar Mustika kepada Jubi, Kamis (18/2/2021).

Baca juga: Pasar direnovasi, pendapatan pedagang merosot tajam

Pedagang sayuran lainnya, Dorina Pekey, mengatakan akibat minimnya stok sayuran yang didapatkan dari petani, ia terpaksa mengurangi ukuran ikatan, namun dijual dengan harga yang lebih murah sehingga tidak memberatkan pembeli.

“Harga sayur kangkung satu ikat saya jual Rp5 ribu tapi ukuran per ikat saya kurangi. Kalau saya jual Rp10 ribu nanti susah lakunya,” ujar Pekey.

Pekey berharap kelangkaan yang menyebabkan naiknya harga sayur mayur khususnya di Pasar Hamadi, tidak berlangsung lama sehingga harga segera kembali normal.

“Harga sayur tidak naik saja sudah banyak tidak laku, apalagi saya jual mahal pasti banyak sayur tinggal dibuang tinggal dikasih ternak saja. Modal banyak tapi tidak kembali, malah kami rugi,” ujar Pekey. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Related posts

Leave a Reply