Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Lapak pedagang yang sebagain besar menjual komoditas pertanian yang terletak di bagian belakang Pasar Hamadi, Kota Jayapura, Provinsi Papua, sedang direnovasi agar tampak bagus.
Pedagang yang terkena dampak dari renovasi tersebut berhamburan mencari tempat berjualan terutama pada sisi pasar yang masih kosong seperti yang terlihat di bagian utara pasar.
Ada juga pedagang yang memilih berjualan di pinggir jalan, sehingga mengakibatkan kemacetan, karena tempat yang biasanya dijadikan tempat parkir mobil digunakan pedagang untuk tempat berjualan.
Pedagang yang merasakan dampak dari renovasi tersebut adalah Maria Magdalena, seorang pedagang hasil pertanian dari Arso di Kabupaten Keerom. Ia terpaksa menggekar dagangannya di pinggir jalan karena tempat di dalam pasar sudah penuh.
“Jualan di sini (pinggir jalan) sepi Mas, saya pikir banyak pembeli karena pembeli perlu repot-repot masuk ke dalam pasar, tapi malah sebagian besar mencari barang belanjaan di dalam pasar sehingga di sini sepi pembeli,” ujar Makdalena.
Magdalena menuturkan pendapatan harian ketika berjualan di dalam pasar bisa mencapai Rp 1 juta, namun saat ini untuk mendapatkan Rp500 ribu saja susah karena sepi pembeli.
“Banyak debu jualan di pinggir jalan, berbeda dengan jualan di dalam pasar. Kalau panas, di dalam pasar juga panas. Saya berharap lapak yang direnovasi segera selesai,” ujar Magdalena.
Baca juga: Jelang PON Papua, Dispar Kota Jayapura fokus tata kawasan wisata
Pedagang komoditas pertanian lainya, Mansur, mengatakan lapak pedagang yang saat ditempatinya sepi pembeli. Apalagi saat siang hari, tidak banyak pembeli yang lalu lalang.
“Sepi Mas, kalau di dalam pasar saya bisa laku sampai Rp3 juta. Di sini paling banyak hanya bisa dapat Rp800 ribu. Itupun paling banyak saya melayani langganan,” ujar Mansur.
Mansur mengatakan sudah 12 hari menempati lapak barunya, karena lapak yang sehari-harinya dijadikan tempat mencari nafkah sedang direnovasi agar terlihat bagus, rapi, dan bersih.
“Katanya kepala pasar mau dibuatkan atap, sehingga pedagang tidak lagi memakai terpal sebagai alat untuk menghindari panas dan tidak kehujanan lagi,” ujar Mansur. (*)
Editor: Dewi Wulandari






