Papua No. 1 News Portal | Jubi ,
Jayapura, Jubi – Sagu merupakan komoditi unggulan bagi masyarakat Papua. Namun hingga kini, sagu yang merupakan panganan lokal itu, sedikit demi sedikit tergerus Beras Sejahtera (Rastra).
Masyarakat seakan dimanjakan, dan kini lebih memilih yang instan. Dengan hadirnya Rastra membuat sebagian masyarakat enggan untuk menengok lahan mereka. Lahan peninggalan nenek moyang tersebut dibiarkan hingga terlihat tak bertuan.
Melihat hal tersebut Penjabat sementara (Pjs) Gubernur Papua, Soedarmo berharap, dengan luas lahan sagu yang terbesar di dunia ini, seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat Papua itu sendiri.
“Berbicara masalah sagu, Papua merupakan salah satu pulau yang memiliki lahan sagu terbesar di dunia. Untuk luas lahan sagu di dunia ada sekitar 5,57 juta hektar. Dari luas lahan sagu sedunia tersebut, Papua memiliki 4,7 juta hektar atau 90 persen dari seluruh luas hutan sagu tersebut,” kata Soedarmo kepada Jubi belum lama ini.
Namun sayang, dengan hampir 90 persen menguasai seluruh luas lahan sagu dunia, Papua belum bisa memanfaatkan sagu tersebut sebagai Sumber Daya Alam yang di jual keluar.
Soedarmo mengatakan, SDA di Papua sangat kaya khususnya hutan sagu, namun belum dikelola dengan baik. Hutan sagu tersebut masih tumbuh secara alami, bukan dibudidayakan oleh masyarakat setempat.
Untuk itu, Pemerintah provinsi Papua berharap ada pihak swasta yang dapat datang menanamkan modalnya di Papua guna pengembangan sagu agar bisa menjadi sebuah komoditi yang mendatangkan keuntungan untuk ekonomi rakyat.
“Negara Cina dan Korea Selatan sudah menerapkan pangan lokal dengan memanfaatkan sagu sebagai bahan dasar makanan hingga kue. Ini menjadi peluang untuk Papua apabila sagu bisa di oleh dengan baik maka sagu Papua juga bisa mengekspor ke dua negara tersebut,” ujar Soedarmo.
Terpisah, dosen antropologi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Jack Morin mengingatkan masyarakat asli Papua tentang pentingnya menjaga keberlangsungan pangan lokal. Papua memiliki beragam pangan lokal selain sagu, keladi, petatas, dan singkong.
“Keberadaan pangan lokal ini penting untuk mempertahankan keberlangsungan kebutuhan pangan masyarakat,” katanya. (*)





