Kosapa gelar nobar tentang pendidikan di Papua

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Jayapura, Jubi – Komunitas Sastra Papua (Kosapa) menggelar nonton bareng (nobar) dan pemutaran film tentang kondisi pendidikan di tanah Papua.

Pemutaran film dengan tema “Pendidikan di Papua Siapa yang Punya?” ini juga diinisasi dalam rangka merefleksikan hari ulang tahun ke-4 Gerakan Papua Mengajar (GPM).

Salah satu penonton, Ferdinand Petege mengatakan umumnya situasi pendidikan di Papua sama. Namun dalam menangani masalah pendidikan dikembalikan pada tiap daerah masing-masing.

“Setiap daerah berbeda-beda pandangan dan budaya, sehingga cara menangani masalah pendidikan juga berbeda-beda, tergantung bagaimana mereka masuk melakukan pendekatan dan mengajarinya,” kata Ferdinand kepada Jubi di Jayapura, Jumat (24/2/2017).

Ferdinand mengatakan, untuk mengatasi masalah pendidikan dan memberantas buta aksara, dimunculkan melalui GPM dan komunitas belajar di daerah-daerah di Tanah Papua.

Koordinator Gerakan Papua Mengajat, Agustinus Kadepa mengatakan, dalam refleksi itu pihaknya menemukan hal yang sama. Gerakan-gerakan mengajar harus dibangun. Anak anak muda Papua juga harus mengambil peran dalam membangun pendidikan di tanah ini.

“Kita tidak usah merenung masalah pendidikan. Namun sekarang dari masalah itu kita berpikir apa yang kita buat,” kata Agus.

Agus mengatakan, saatnya anak-anak muda masuk ke sekolah formal, menemukan titik fokus atau solusi untuk pendidikan di tanah ini.

“Pendidikan tidak hanya sukses dalam pendidikan formal saja, tetapi juga pendidikan nonformal,” kata lulusan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cenderawasih ini.

Anggota Komunitas Guru-Guru Muda Pinggiran Danau Sentani, Imelda Kopew menilai masalah pendidikan di Papua merupakan masalah serius. Oleh karena itu, generasi muda hendaknya tidak boleh tinggal diam.

“Persoalan pendidikan di Papua hari ini bukan masalah tanggung jawab guru. Sebab kita tidak bisa hanya berharap dari guru,” katanya.

“Kitorang harus bersatu, anak-anak muda untuk membangun pendidikan di Papua. Tidak bisa GPM jalan sendiri kemudian komunitas pendidikan jalan sendiri. Karena kalau demikian pendidikan di Papua jalan di tempat,” lanjutnya. (*)

Related posts

Leave a Reply