Sabtu malam, 16 Maret 2019, hujan deras mengguyur dan menjadi akhir pekan yang mencekam di tempat saya bermukim, Perumahan Darsua Harapan Abadi, Kampung Doyo Baru, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.
Hiruk itu semakin menjadi sekitar pukul 11 malam Waktu Papua (WP). Semua warga di Jalan Yo’a’nibi atau yang lebih dikenal sebagai Jalan Polres (Sentani, Kabupaten Jayapura), berhamburan keluar rumah.
Tak hanya hujan, tapi petir semakin membikin panik warga. Hujan memang telah menyiram Kota Sentani menjelang malam, seolah-olah Pegunungan Robhong Holo sedang ‘menangis’. Tangisannya menjelma menjadi banjir bandang yang membawa lumpur, menyeret bebatuan dan potongan-potongan kayu dari puncaknya. Kemudian menghantam apa saja yang menghalangi dan berada di kakinya.
Malam itu listrik padam dan teriakan kepanikan warga terdengar di mana-mana. Dalam ketegangan itu, saya mengajak istri, Veronica Sarah Ohinol (34) dan putra saya, Godwin Davine Arjuna (5), segera keluar dari rumah. Tak lupa saya memasukkan surat-surat penting ke dalam tas punggung, sedangkan Veronica mengemasi beberapa helai sarung, minyak angin, obat penurun panas untuk anak, pun jaket Godwin dan miliknya.
Di depan gang, air berarus deras dan berlumpur sudah setinggi betis saya. Seorang teman di Perumahan Marasai yang letaknya tak jauh dari perumahan yang kami tinggali, menelepon istri saya. Ia mengajak kami mengamankan diri di lantai dua rumah milik tetangganya. Tapi ajakan itu tak bisa kami penuhi, sebab kami sekompleks telah terkurung banjir. Air berlumpur di jalan utama kompleks, sudah setinggi paha saya.
“Kita mau ke mana? Air ada di mana-mana!” kata Veronica panik, sambil menahan tangis.
Saya terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Jujur, saya pun panik, namun saya mencoba tenang di hadapan mereka, agar mereka tak bertambah panik. Saya menggendong Godwin di bawah naungan payung. Ia menangis karena takut melihat arus banjir.
“Godwin jangan takut. Tuhan menjaga kita, karena Tuhan yang menurunkan hujan. Papi pasti menjaga Godwin dan mami,” kata saya, berusaha menenangkannya.
Saya bukan orang religius. Namun entah mengapa kalimat tersebut terucap begitu saja dari bibir saya, yang gemetar menahan dingin.Banjir yang merendam Perumahan Darsua, Doyo Baru. – Jubi/Arjuna Pademme
Saya lantas mengajak mereka ke rumah salah satu warga di deretan paling depan blok perumahan. Karena saya merasa posisi rumah itu cukup aman. Di sana sudah ada beberapa ibu bersama anak-anak mereka, turut menyelamatkan diri.
Setelah itu, saya bersama beberapa pria memantau kondisi debit air, dan jalur-jalur masuk air ke perumahan. Air semakin tinggi seiring hujan yang tak kunjung reda. Sebagian rumah warga sudah terendam air berlumpur.
Saya bergegas kembali ke rumah untuk memastikan apakah air juga masuk di sana. Setiba di depan rumah, air sudah menyentuh lutut saya. Tapi air tak masuk ke rumah, karena terhalang fondasi yang sejajar dengan tinggi air.
Semalaman kami berjaga-jaga. Hujan mulai reda menyisakan gerimis, sekitar pukul 4 dini hari, Minggu, 17 Maret 2019. Air di depan rumah kami sudah mulai surut. Kondisi yang sama dengan jalan keluar perumahan. Arusnya pun tak sederas semalam.
Saya meyakinkan Godwin dan mamanya kalau situasi sudah aman, kemudian mengajak mereka pulang untuk beristirahat. Sesampai di rumah, mereka tertidur sedangkan saya terjaga hingga matahari menyapa.
Bayang-bayang tsunami Palu
Siangnya, sekitar pukul 11, saya berjalan menuju jalan utama yang menghubungkan Kota Sentani dengan Distrik Depapre. Saya hendak memastikan kondisi Lapangan Terbang (Lapter) Mission Aviation Fellowship (MAF) milik Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK), yang berada tepat di sisi jalan utama. Kabarnya, lokasi tersebut paling parah terdampak banjir bandang.
Saat menuju ke sana, saya harus melewati deras air yang menyentuh lutut. Di beberapa titik terdapat gundukan lumpur berpasir. Beberapa warga yang berupaya membelah jalan menggunakan sepeda motor, terpaksa menepi. Mesin kendaraan mereka mati, tak kuasa bertarung melawan air yang bercampur lumpur dan pasir. Di kanan-kiri jalan, sebagian teras rumah warga dan ruko tertutup lumpur. Sementara itu, di beberapa lokasi lainnya, saya melihat sejumlah mobil dan sepeda motor terbenam lumpur.
Setelah berjalan kira-kira sejauh satu kilometer, saya sampai di Lapter MAF. Saya berdiri di atas sebatang kayu besar yang melintang di seberang jalan, tepat di depan lapter. Batang kayu itu hanyut diseret banjir bandang semalam. Pandangan saya mengitari lokasi tersebut. Landasan lapter dan sekitarnya, hampir semuanya tertimbun lumpur berpasir.
Tak hanya itu, di beberapa titik ada aliran air yang cukup deras, seperti membentuk kali-kali kecil. Aliran air itu datang dari arah belakang lapter, menyeruak dan membelah jalan utama lalu menerobos ke area permukiman.
Sejauh mata memandang, banyak berserakan batang-batang kayu dan bebatuan dari berbagai ukuran. Tak ketinggalan drum-drum bercat merah, berisi bahan bakar pesawat yang semula tersimpan di gudang hanggar, ikut terseret arus hingga ke tepi jalan. Saya sempat menghidu bau avtur.Lapter MAF usai disapu banjir bandang, Minggu (17/3/2019). – Jubi/Kristianto Galuwo
Sedih tiba-tiba menyelimuti hati. Saya ingin menangis melihat situasi itu. Saya seolah-olah sedang menyaksikan Kota Palu pasca-tsunami, seperti yang ditayangkan sejumlah stasiun televisi usai air menyapu ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu.
Dalam hati saya bertanya, “Bagaimana kondisi mereka yang berada di area lapter malam itu? Bagaimana dengan penghuni beberapa rumah di belakang lapter yang tertimbun lumpur berpasir, bebatuan dan batang-batang kayu? Apakah mereka selamat, atau tertimbun material longsor, atau terbawa arus?”
Saat bermenung, suara seorang pria paruh baya mengagetkan saya.
“Edede… hancur sekali ki. Seperti habis tsunami ini,” katanya.
“Itu lagi,” saya menimpali.
Di seberang jalan, tepat di pagar besi lapter yang roboh, bersandar sebuah pesawat Twin Otter yang terseret arus. Burung besi itu awalnya berada di hanggar yang jaraknya sekitar 200 meter. Ada sebuah helikopter Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga terparkir di lapter, yang sepertinya sedang bermasalah.
Hampir sejam lebih berada di sana, saya kembali ke rumah karena tak tahan lagi melihat kondisi sekitar yang luluh lantak.
Bencana menyisakan trauma
Saya lahir di Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan, 33 tahun silam. Kemudian merantau ke Papua pada Juni 2006. Setahun kemudian saya bekerja di Tabloid Jubi, Papua.
Saya menikahi Veronica pada 9 Oktober 2013. Godwin lahir setahun setelah pernikahan kami, tepatnya 14 September 2014. Lalu kami tinggal di Doyo Baru pada akhir Agustus 2017.
Setelah banjir bandang itu, istri saya menyarankan agar kami mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman, di wilayah lain di Kabupaten Jayapura atau Kota Jayapura. Ia takut tinggal di rumah.
Saya tahu ia panik, apalagi setelah melihat foto-foto pasca-banjir bandang beredar di media sosial, serta membaca informasi dan isu tidak jelas yang disajikan para pewarta dunia maya.
Saya berupaya menenangkan dan meyakinkannya jika semua akan baik-baik saja. Saya ikut yakin, tak akan ada lagi hujan seperti malam sebelumnya, karena siang itu matahari sempat bersinar malu malu di balik awan.
Pukul 8 malam, listrik yang padam sejak malam kejadian kembali menyala. Namun cuaca mendung lagi. Tak lama berselang gerimis turun. Istri saya kembali panik. Apalagi setelah seorang kawannya di blok lain perumahan meneleponnya, lalu mengajaknya untuk mengamankan diri ke lokasi pengungsian sementara di Kantor Bupati Jayapura.
Ada dua mobil relawan Radio Antar-Penduduk Indonesia (RAPI), akan mengevakuasi warga yang mau mengungsi. Godwin dan mamanya diminta menunggu di gang keluar blok rumah kami jika ingin ikut.
“Saya tidak mau lagi tinggal. Saya dan Godwin harus pergi sementara. Kalau warga akan dievakuasi, berarti situasi sudah darurat,” kata Veronica, kali ini dengan tangisan.
“Mami menangis? Mami takut? Kita pergi saja dulu sudah,” kata Godwin, saat melihat mamanya menangis.
Saya tak kuasa lagi menenangkannya. Saya pun mengizinkan Godwin dan mamanya mengamankan diri ke lokasi pengungsian sementara.Godwin (berjaket kuning) saat berada di lokasi pengungsian sementara. – Jubi/IST
Ikut bersama mereka dua anak perempuan tetangga kami, Siren (9) dan adiknya Sela (8). Ibu mereka telah berpulang pada pertengahan Juli 2018. Bapak mereka menitipkan kedua anaknya kepada istri saya, untuk ikut mengamankan diri lantaran khawatir akan terjadi lagi longsor yang menyebabkan banjir susulan.
Hujan semakin deras saat mobil yang ditumpangi Godwin dan mamanya, menghilang di ujung jalan utama perumahan. Air kembali menerobos gang-gang di kompleks perumahan. Debitnya lebih tinggi dibandingkan malam sebelumnya. Sejumlah rumah warga kembali terendam air. Namun kali ini air tidak lagi bercampur lumpur.
Warga yang masih bertahan tetap waspada. Semuanya berharap hujan reda dan air akan surut. Meski debit air dan arus malam itu lebih mengkhawatirkan dibandingkan malam sebelumnya, tapi keadaan baik-baik saja hingga pagi.
Setelah semalam berada di lokasi pengungsian, mamanya membawa Godwin pergi ke Tanah Hitam, Distrik Abepura, Kota Jayapura, dengan menumpang mobil milik Rumah Sakit Dian Harapan, Waena. Berdua menginap sementara di rumah teman Veronica semasa SMP.
Setelah kondisi stabil, mereka kembali ke rumah. Dua pekan pasca-banjir bandang Sentani berlalu. Namun jejak tangis Robhong Holo masih membekas di benak istri saya. Ia trauma. Saat awan hitam bergelantungan di angkasa, pertanda hujan akan turun, ia selalu bertanya-tanya apakah situasi akan baik-baik saja. Saya selalu meyakinkannya, kalau bencana kemarin tak akan terulang, namun kewaspadaan tetap diutamakan.
“Apakah kamu yakin kita akan selamanya tinggal di sini?”
“Bagaimana jika nanti terjadi banjir lagi?”
Berjujut-jujutan pertanyaanya. Saya kehabisan kata-kata untuk menenangkannya.
Sekarang, istri saya tidak mau berada di rumah jika hanya berdua dengan Godwin, saat saya bekerja. Mereka memilih pergi ke rumah seorang teman, yang saat malam bencana mengajaknya untuk mengamankan diri ke lokasi pengungsian. Godwin dan mamanya baru akan kembali ke rumah, setelah saya pulang bekerja pada sore hari.
Beruntung, bencana itu tidak membekas di benak Godwin. Saat ada yang bertanya kepadanya: apakah ia takut hujan atau banjir? Godwin akan meniru jawaban yang pernah saya utarakan kepadanya: jika yang menurunkan hujan adalah Tuhan, maka Tuhan akan menjaganya.
“Kan, ada Tuhan yang jaga. Papi juga pasti jaga Godwin dan mami,” jawabnya.
Sepertinya kalimat saya saat menenangkannya malam itu, terus melekat dalam ingatannya.
Istri saya hanya satu dari sekian warga Kabupaten Jayapura yang trauma dengan peristiwa tersebut. Mungkin butuh waktu berbulan-bulan bahkan tahun, untuk bisa lepas dari bayang-bayang kejadian itu.
Namun saya, Veronica, dan Godwin patut bersyukur karena selamat dari bencana tersebut. Sementara itu, di tempat lain ada ratusan saudara-saudari kita yang tak seberuntung keluarga saya.
Banyak orang yang telah kehilangan keluarga, tempat tinggal, harta benda dan harus menanggung duka yang akan selalu membekas di hati. Sebuah duka yang tentunya menjadi duka kita semua. (*)
Kisah wartawan Jubi, Arjuna Pademme, yang ikut terdampak banjir bandang di Sentani.