Cakupan vaksinasi Sinovac di Papua capai 57 persen

Papua
Ilustrasi suasana vaksinasi untuk anggota DPR Papua, staf dan keluarganya, Senin (12/7/2021) - Jubi/Arjuna

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dinas Kesehatan Provinsi Papua menyatakan, cakupan vaksinasi di Papua dengan vaksin Sinovac telah mencapai 57 persen.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Papua dr Aaron Rumainum mengatakan, dari 680.800 dosis Sinovac untuk Papua, yang telah disuntikkan sebanyak 390.404 dosis.

Read More

“Saya bicara khusus Sinovac, karena dia adalah [vaksin] mayoritas yang digunakan. Kalau kemarin kemarin hanya 47 persen sekarang sudah 57 persen,” kata Aaron Rumainum, Senin (12/7/2021).

Menurutnya, peningkatan persentasi cakupan vaksin Sinovac di Papua cukup signifikan dalam 10 hari terakhir. Jika dirata-rata, setiap harinya meningkat satu persen.

“Setelah saya update data dalam 10 hari, saya kaget meningkat 10 persen. Berarti satu hari, satu persen. Kalau 390.000 dosis, berarti sekitar 3.900 suntikan setiap hari se-Papua. Sangat signifikan saya pikir,” ujarnya.

Katanya, untuk penggunaan vaksin Sinovac di Papua pada tahap pertama disuntikkan 262.237 dosis, dan tahap kedua 128.167 dosis. Sedangkan vaksin AstraZeneca total suntikan pertama 10.138 dosis, dan suntikan tahap kedua 2.550 dosis.

“Vaksin Sinopharm, untuk karyawan PT Freeport Indonesia, itu Freeport beli sendiri 2.239 dosis. Jadi total dari tiga vaksin itu yang disuntikkan tahap pertama 274.614 dosis, dan suntikan kedua 130.717 dosis,” ucapnya.

Menurutnya, kebijakan pemberlakuan syarat vaksinasi oleh pemerintah, sangat membantu pelaksanaan vaksinasi.

“Untuk cakupannya, 10,26 persen total semua dari sasaran tahap ketiga. Kalau kita total semua harus empat juta suntikan. Tapi kalau kita 70 persen kan [sudah baik],” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua II DPR Papua, Edoardus Kaize mengatakan, program vaksin Covid-19 kini, baik. Akan tetapi, pihak terkait mesti gencar melakukan sosialisasi kepada warga.

“Warga mesti mendapat kepastian dari pihak kesehatan siapa saja yang bisa divaksin dan tidak bisa divaksin. Tidak bisa semua rata divaksin. Mereka yang punya riwayat kesehatan seperti apa, jadi perlu sosialisasi sehingga masyarakat tidak merasa vaksin ini menjadi momok bagi masyarakat,” kata Edoardus Kaize.

Menurutnya, dengan sosialisasi yang baik, semua kalangan masyarakat akan menerima pelaksanaan vaksinasi, sebab mereka telah memahaminya.

“Jadi mesti ada sosialisasi baik supaya vaksin itu bisa sampai ke masyarakat bawah, dengan masyarakat punya pemahaman yang baik,” ucapnya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Related posts

Leave a Reply