
Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kota Jayapura, Robert L.N. Awi, mengatakan batik khas Port Numbay (Kota Jayapura) belum memberikan dampak pada peningkatan perekonomian khususnya bari perajin batik.
“Karena itu masih dalam skala usaha mikro dan tempat lingkungan sekitarnya, atau masih dijadikan sebagai usaha sambilan bukan pekerjaan utama,” ujar Awi di Kantor Wali Kota Jayapura, Rabu (19/2/2020).
Menurut Awi, usaha batik sudah menjadi pekerjaan pokok maka ke depannya tidak hanya meningkat dari segi produktivitas, tapi juga perekonomian, karena produksi dan pemasaran sudah berkesinambungan.
“Kami punya tiga kelompok pelaku usaha khusus untuk batik Port Numbay (selain Jimmy Afaar dan mama Blandina), yang sudah jalan dan mulai produksi. Omzet dalam sebulan baru menjual batik tulis antara 10 sampai 15 potong, batik cap bisa menjual 20 sampai 30 potong,” ujar Awi.
Diakui Awi, para perajin batik terus dilakukan pelatihan, pendampingan, dan pemberian bantuan sehingga mampu meningkatkan perekonomian dalam keluarga dan berkontribusi para perekonomian di Kota Jayapura.
“Itu yang kami dorong tentunya sehingga produksinya saat dipasarkan bisa meningkatkan pendapatan mereka,” jelas Awi.
Fasilitator IKM kelompok batik di Distrik Abepura, Joni Silas Wona, mengatakan perajin batik belum berkontribusi untuk perekonomian, karena bahan untuk pembuatan batik di Papua susah didapat.
“Kalau pun ada, harganya mahal. Seperti kain dan pewarna, kami harus datangkan dari Solo, Pekalongan, Yogyakarta, dan malang,” ujar Wona.
Wona berharap agar Pemerintah Kota Jayapura menyediakan toko bahan batik cap dan tulis, agar tidak lagi membeli kain dari luar Papua.
“Pendampingan yang saya lakukan, yaitu produksi dan pembukuan agar pelaku IKM batik binaan saya bisa meningkatkan perekonomiannya,” jelas Wona. (*)
Editor: Kristianto Galuwo






