Papua No. 1 News Portal | Jubi ,
JANUAR Wenda, murid Kelas 4 SD yang tinggal di Buper, Kota Jayapura asyik menggambar di atas bentangan plastik sebagai alas. Di sekitarnya juga asyik menggambar kawan-kawannya dari kelompok Gerakan Papua Mengajar (GPM).
“Saya sangat senang karena bisa ikut bersama GPM di sini, karena di sini kami bisa mengenal banyak teman dan banyak belajar bersama anak-anak dari komunitas lain,” katanya.
Ia berterima kasih kepada panitia yang mengadakan kegiatan, karena bisa menambah semangat anak-anak untuk belajar lebih giat.
Ia juga berharap kegiatan seperti itu selalu diadakan untuk tempat lain juga di Papua sehingga dapat menambah semangat adik-adik dan teman-temannya untuk giat belajar.
“Sehingga bisa menghapus buta aksara, terutama teman-teman kami yang ada di pelosok Papua,” ujarnya.
Wenda dan kawan-kawan beraktivitas pada "Festival Keaksaraan Nonformal di Tanah Papua" dengan tema "Belajar Membaca dan Menulis Dapat Membawa Perubahan Hidup" di Papua Training Center, Kompleks YABN/SIL, Jalan Sosial Sentani, Jayapura, 14-15 September 2018.
Penyelenggara adalah Jaringan Peduli Bina Aksara Papua (JPBA-P) yang mengkoordiasikan sejumlah lembaga yang peduli kepada kegiatan pendidikan nonformal di Papua.
Festival dimeriahkan sejumlah stan, tak hanya terkait dengan pendidikan tetapi juga usaha. Terkait dengan pendidikan misalnya, ikut Dinas Perpustakaan Daerah, sejumlah toko buku, dan komunitas belajar. Sedangkan usaha terlihat juga mama-mama Papua perajin noken menggelar hasil kerajinannya.
Selama festival juga berlangsung kegiatan untuk anak-anak usia Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Mereka menjadi peserta kegiatan menggambar dan bermain yang diselenggarakan masing-masing stan.
Komunitas Gerakan Papua Mengajar (GPM) ikut membuka stan. Pengurus GPM, Aleks Giyai, mengatakan yang menarik dari festival tersebut adalah anak-anak bisa melihat dan menyimak langsung hasil kreativitas berupa karya-karya dari setiap komunitas.
Selain itu juga dapat melihat pameran dari berbagai lembaga yang ikut memamerkan informasi dan karya di stan mereka. Semua itu proses belajar bagi setiap komunitas belajar untuk saling menginspirasi
"Saya sangat apresiasi panitia yang telah menyelenggarakan Festival Keaksaraan Nonformal ini dan mengundang kami, kami GPM secara terhormat ikut serta dalam kegiatan yang luar biasa ini," ujarnya.
Giyai menjelaskan melalui stan GPM memamerkan alat-alat peraga belajar yang selama ini dibuat sebagai bahan ajar dari alam oleh kelompoknya. Selain itu juga dipamerkan foto-foto aktivitas belajar dan buku-buku.
"Banyak yang antusias dan memberikan apresiasi kepada GPM, baik dari dinas-dinas maupun lembaga-lembaga, serta pengunjung yang datang melihat dan mereka juga memberikan tanggapan positif untuk terus meningkat dan konsisten mengajar, serta terus memberikan inspirasi kepada anak-anak muda Papua untuk membasmi buta aksara di seluruh Tanah Papua," katanya.
Selama berlangsung dua hari, festival dikunjungi tidak hanya pelajar dan anak-anak, tetapi juga mahasiswa, aktivis LSM, orang tua, dan wisatawan asing. Pengunjung aktif melihat setiap stan dan bahkan ada yang ikut melakukan permainan bersama anak-anak.
Di beberapa stan juga ada yang menjual buku bacaan anak, dewasa, hingga buku saku rohani. Pengunjung bisa membeli langsung di stan. Pengunjung juga terlihat aktif bertanya kepada penjaga stan tentang aktivitas mereka seperti di stan komunitas Gerakan Papua Mengajar (GPM).
Di stan yang menjual noken pengunjung juga bisa memilih aneka bentuk noken, baik ukuran, warna, hingga kualitas noken.
Yang menarik ada juga stan yang menyediakan kopi pinang dengan harga yang relatif murah. Rasa dan aroma menyerupai kopi dan buah pinang yang dicampur menjadi minuman.
Festival juga diwarnai dengan kehadiran seniman Papua, seperti Yanto Gombo yang memperlihatkan kepiawaiannya melukis cepat wajah pengunjung yang memesan lukisan. Berbekal pensil dan kertas A4 dengan tangan lincahnya satu lukisan mampu ia selesaikan 10-20 menit. Banyak pengunjung yang datang dan meminta Yanto melukis wajah mereka.
Ada juga komunitas seni lainnya yang hadir meramaikan festival untuk melukis wajah para pengunjung. Pemesannya kebanyakan anak-anak karena tarifnya lumayan murah. Sebagian besar anak-anak, bahkan juga orang dewasa meminta dilukis wajahnya dengan motif Papua.
Mama-mama Papua selain menjual noken sambil merajut, juga ada yang berjualan makanan lokal Papua seperti sagu bakar, ikan kuah kuning, dan papeda. Pengunjung juga menyempatkan diri untuk mencicipi masakan mama-mama Papua ini.
Sedangkan Baliem Blue Coffie milik Rosanti Gombo juga ikut memeriahkan festival dengan membuka stan dibantu saudaranya melayani pengunjung yang singgah untuk menikmati secangkir kopi asli Wamena. (*)





