Rabu Abu, momentum untuk selalu menjadi kudus

Pastor mengoleskan abu di kening jemaat pada misa Rabu Abu di Gereja Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Rabu (26/2/2020) - Jubi/Titus Ruban.
Pastor mengoleskan abu di kening jemaat pada misa Rabu Abu di Gereja Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Rabu (26/2/2020) – Jubi/Titus Ruban.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Nabire, Jubi – Perayaan Rabu Abu menjadi momentum bagi umat Katolik untuk melakukan perenungan lebih mendalam terhadap kesengsaraan dan kebangkitan Yesus Kristus. Doa dan amal harus semakin ditingkatkan selama rentang 40 hari masa puasa guna menuju pertobatan.

Read More

“Masa prapaskah (hendaknya) tidak hanya diisi dengan berdoa, tetapi juga berpuasa dan beramal bagi orang banyak. Dampak (pengamalannya) bisa berpengaruh pada hari-hari lain (setiap hari),” kata Romo Simon Ciptasuwarno, SJ, saat memimpin misa Rabu Abu di Gereja Katolik Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Rabu (26/2/2020).

Pastor, yang karib disapa Romo Cipto itu juga meminta umat Katolik selalu mampu menahan diri terhadap segala kesenangan dan kenikmatan duniawi. Karena itu, mereka harus senantiasa mendekatkan kepada Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan maupun diri sendiri.

“Jangan sampai (umat Katolik) hanya menjadi kudus di gereja pada hari Minggu atau masa prapaskah. Perilaku dan tutur katanya sama sekali tidak mencerminkan hasil perenungan terhadap sabda Tuhan,” tuturnya.

Dia melanjutkan berpuasa, sejatinya ialah membangun pertobatan dengan mengerakkan hati, sikap kebatinan dan meninggalkan perbuatan negatif dalam kehidupan sehari-hari. “Pertobatan adalah proses (untuk) mencapai kesempurnaan hidup Kristiani melalui perbuatan amal kasih, doa dan puasa.”

Edi Somar, umat Katolik Nabire berharap dia sekeluarga dapat menjalankan semua kewajiban selama masa prapaskah. “Ini masa pertobatan. Kami sebagai umat hanya berharap bisa menjalankan perintah Tuhan.”  (*)

 

Editor: Aries Munandar

Related posts

Leave a Reply