Perajin batik Papua keluhkan ketersediaan bahan baku

Perajin batik Papua
Perajin batik Papua sedang membatik - Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Fasilitator IKM kelompk batik di Distrik Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Joni Silas Wona, mengaku perajin batik tulis kesulitan mendapatkan bahan baku sehingga mempengaruhi produktivitas.

“Perajin batik Papua belum memberikan kontribusi perekonomian, baik dalam kelompok maupun diri sendiri, karena bahan baku pembuatan batik susah didapat,” ujar Wona di Kantor Wali Kota Jayapura, Selasa (20/4/2021).

Read More

Dikatakan Wona, kalaupun ada (bahan baku batik), harganya mahal, seperti kain dan pewarna sehingga harus mendatangkannya dari luar Papua, seperti Solo, Pekalongan, Yogyakarta, dan Malang.

“Kalau bisa ada distributor kain dan pewarna, namun dengan harga terjangkau sehingga produktivitas perajin batik terus meningkat sehingga berdampak pada peningkatan ekonomi,” ujar Wona.

Menurut Wona, batik Papua khususnya Kota Jayapura memiliki peluang ekspor, namun perajin belum bisa memaksimalakn produksi akibat minimnya ketersediaan bahan baku batik.

“Tingginya biaya pembelian bahan baku dan lama pengerjaan memicu harga jualnya juga mahal. Perajin inginnya menjual dengan harga murah agar lebih gampang dijual supaya produksi lancar,” ujar Wona.

Wona berharap agar ketersediaan bahan baku pembuatan batik tersedia di ibukota Provinsi Papua sehingga tidak lagi membeli dari luar daerah.

“Pendampingan yang saya lakukan mulai dari produksi, penjualan, hingga pembukuan agar pelaku IKM binaan saya bisa meningkatkan perekonomiannya,” ujar Wona.

Baca juga: Nelayan di Kota Jayapura terdampak pandemi dan cuaca ekstrem

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Kota Jayapura, Robert L.N. Awi, mengatakan usaha batik masih menjadi skala mikro atau bukan pekerjaan utama.

“Kami punya tiga kelompok perajin batik Port Numbay (Kota Jayapura) selain Jimmy Afaar dan Mama Balandina. Tiga kelompok ini bisa menjual batik tulis 10-15 potong, dan batik cap 20-30 potong,” ujar Awi.

Awi, mengaku minimnya ketersediaan bahan baku dapat mengurangi produktivitas perajin sehingga berpengaruh terhadap produksi dan perekonomian.

“Itu yang kami dorong (bahan baku) bisa tersedia dengan harga terjangkau sehingga perajin batik kami bisa meningkatkan pendapatan mereka,” ujar Awi. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Related posts

Leave a Reply