Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua
Sentani, Jubi – Penjual kerajinan tangan atau suvenir khas Papua, seperti noken, gelang dan tas HP, yang menjual di areal dermaga Kalkhote mengeluhkan sepinya pembeli pada Festival Danau Sentani (FDS) X, 19-23 Juni 2017.
Ia menyebutkan, tahun lalu pembeli sedikitnya enam sampai tujuh orang. Mereka membeli noken, gelang dan tas HP.
“Terus untuk pendapatan selama tiga hari tahun kemarin itu saya dapat Rp 1,7 juta, tapi sekarang ini susah sekali. Dari pagi sampai sore baru dua sampai tiga pembeli,” kata Ance Douw, seorang penjual noken, Kamis (21/6/2017).
Menjual di areal dermaga merupakan pilihan sebab mereka tak mendapatkan stan. Mereka mengaku sudah ditegur pihak keamanan, namun tak ada pilihan lain untuk tetap menjual kerajinan Papua di ajang festival.
“Terus untuk pendapatan selama tiga hari tahun kemarin itu saya dapat Rp 1,7 juta, tapi sekarang ini susah sekali. Dari pagi sampai sore baru dua sampai tiga pembeli,” kata Ance Douw, seorang penjual noken, Kamis (21/6/2017).
Ia mengaku menjual kerajinan khas Papua di dermaga sejak FDS digelar sepuluh tahun lalu. “Pembeli dalam tahun kemarin itu lumayan banyak. Tahun ini tidak begitu ramai seperti tahun kemarin,” katanya.
“Kami sudah dengar stan yang disewakan tapi kami terlambat. Terus bayar juga pasti mahal. Kalau bayar Rp 5 ribu kami bisa ambil, tapi kalau mahal kami tidak bisa,” katanya.
Ia pun berharap agar panitia dan pengurus FDS selanjutnya dapat mengakomodir pedagang asli Papua yang tak mampu menyewa stan.
Penjual kerajinan Papua lainnya, Regina Pekey mengatakan, penjual noken, gelang, anting-anting dan pernak-pernik menggunakan tenda yang disiapkan. Namun mereka tetap menahan panas di ujung lokasi sekitar dermaga.
“Nanti di festival yang akan datang kalau tidak ada tempat yang layak, ya kami kembali seperti ini lagi nanti,” katanya. (*)





