Selama pandemi Covid-19 PKL di Kota Jayapura kesulitan jualan

papua-pkl-pantai-hamadi
Pedagang kaki lima berjualan di Pantai Hamadi - Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Elvi, 29 tahun, menatap kosong jejeran kursi kosong di depan lapaknya. Selama pandemi Covid-19, sangat jarang pembeli yang menikmati aneka makanan dan minuman yang dijualnya.

Ia bingung berapa lama lagi bisa bertahan berdagang jika kondisi penjualannya terus menurun. Meski telah ditetapkan new normal atau adaptasi kehidupan baru, kondisi ini belum mengubah pendapatannya.

Read More

Pasalnya, sebelum pandemi Covid-19, setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu, lapaknya selalu ramai pembeli. Kursi yang disediakan untuk pembeli menikmati dagangannya tak pernah kosong. Dalam sehari ia bisa meraup omzet hingga Rp2 juta. Tapi sekarang untuk mendapatkan Rp100 ribu saja sudah sangat bersyukur.

“Saya memilih tetap berjualan karena cuma pekerjaan ini yang saya bisa lakukan. Menjadi pedagang kaki lima sudah 10 tahun, tapi jualan di pantai belum sampai satu tahun. Sebagai tulang punggung keluarga, saya sangat sedih,” ujar ibu satu anak ini, saat ditemui Jubi di Pantai Hamadi, Kota Jayapura-Papua, Kamis (3/9/2020).

Lebih jauh Elvi bercerita sejak pandemi Covid-19 pada Maret 2020, ia mengaku kesulitan berjualan karena pembatasan sosial. Belum lagi aktivitas usaha dibatasi hanya sampai pukul dua siang.

“Tidak ada pemasukan sama sekali. Saya memilih tidak jualan karena tidak ada pembeli. Sementara modal terus jalan terutama membeli buah-buahan untuk bahan jus. Kalau terlalu lama disimpan, pasti busuk. Harapan saya supaya pandemi korona ini cepat berakhir supaya penjualan saya kembali normal,” ujar Elvi.

Baca juga: Jumlah PKL di Kota Jayapura terus bertambah

Pedagang kaki lima lainnya, Rosmini, mengaku selama pandemi Covid-19 sangat kesulitan berjualan terutama jualan saat malam hari karena pembatasan aktivitas hanya sampai pukul 9 malam.

“Kalau malam saya jualan Pertalite sampai Subuh, nanti jam 12 siang baru saya jualan eneka makanan dan minuman di Pantai Hamadi. Dijalani saja. Kalau tidak jualan keluarga saya bisa kelaparan,” ujar Rosmini.

Menurut Rosmini, dampak pandemi Covid-19 sangat berimbas pada banyak sektor kehidupan khususnya para pedagang kaki lima yang menjajakan makanan, minuman, dan barang di pinggir jalan.

“Karena virus korona ini kami sangat merasakan menurunnya pembeli. Biasa dalam sehari saya bisa kantongi Rp3 juta tapi sekarang mau dapat Rp500 ribu saja susah. Syukur kalau ada pembeli, kalau tidak ada bisa rugi banyak saya terutama kebutuhan modal dan bayar uang sewa rumah. Kalau tidak jualan mau ambil uang dimana coba,” ujar Rosmini.

Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura-Papua mulai menerapkan new normal pada 1 September 2020. Seluruh aktivitas termasuk proses belajar belajar di sekolah, akan diberlakukan kembali menuju normal seperti sebelum pandemi Covid-19. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Related posts

Leave a Reply