Pemerintah diminta serius tangani CAS

Papua-Kota Sentani
Situasi ruas jalan di Sentani Kota ketika hujan mulai reda - Jubi/Engel Wally

 

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Pemerhati dan pegiat lingkungan, Marshall Suebu, minta pemerintah daerah agar lebih serius menangani kerusakan yang terjadi di kawasan Cagar Alam Siklop (CAS) di Kabupaten Jayapura, Papua.

Read More

Marshall yang juga Ketua CPA Hirosi Papua ini menjelaskan bahwa dalam rangka memperingati Hari Gunung Internasional pada Desember 2021 lalu, pihaknya telah melakukan pendakian ke kawasan gunung Siklop dan mendapati ada banyak perubahan dan pengrusakan yang terjadi di kawasan CAS.

“Kerusakan terjadi karena kondisi alam, tetapi ada juga karena pembukaan lahan kebun,” ujar Suebu saat ditemui di Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (20/1/2022).

Menurutnya, pengalaman banjir bandang pada 2019 lalu, Pemerintah Kabupaten Jayapura telah menetapkan gunung Siklop sebagai kawasan bencana permanen. Oleh sebab itu, perhatian serius pemerintah daerah hendaknya tertuju kepada g;unung Siklop untuk meminimalisasi hal-hal yang tidak diinginkan bersama, apalagi dengan kondisi cuaca yang belakangan ini sangat ekstrim dan hasilnya sudah terjadi di Kota Jayapura.

“Hentikan program yang muluk-muluk tanpa realisasi dan tindak lanjut yang jelas. Manfaatkan komunitas atau lembaga-lembaga swasta yang mau bekerja dengan penyiapan anggaran yang cukup agar keberlangsungan kawasan cagar alam serta gunung Siklop tidak menjadi ancaman bagi masyarakat yang ada di Kabupaten Jayapura ini,” ucapnya.

Dikatakan, sosialisasi demi sosialisasi sudah berulangkali dilaksanakan kepada masyarakat yang berada di kawasan penyangga. Saat ini yang dibutuhkan adalah tindakan tegas, dengan memanfaatkan peraturan pemerintah tentang lingkungan hidup, peraturan daerah tentang kawasan Cagar Alam Siklop, dan masih banyak regulasi yang dapat dimanfaatkan untuk menjadi dasar pijakan.

Bencana musiman yang terjadi pada lima puluh hingga seratus tahun yang lalu bisa terjadi lebih cepat dari waktu tersebut apabila tidak ada perhatian serius terhadap gunung Siklop.

“Tangkap [oknum] yang bisa ditangkap karena melanggar aturan. Hentikan [kegiatan] yang bisa dihentikan karena memang tidak sesuai aturan. Pindahkan [orang] yang harus dipindahkan karena tidak boleh berada di kawasan cagar alam. Hal ini dilakukan berdasarkan aturan dan kesepakatan bersama semua pihak, ” katanya.

Baca juga: PPLH akan terus tanam pohon dan awasi Siklop 

Sementara itu, Ketua Pemuda Pencinta Lingkungan Hidup ( PPLH) Kabupaten Jayapura, Manasse Bernard Taime mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan pembibitan dan peremajaan tanaman matoa yang nantinya akan di tanam pada kawasan CAS.

Untuk melakukan hal ini, kata Taime, setiap lahan yang dijadikan perkebunan oleh masyarakat akan didata kepemilikannya agar dalam masa panen nanti kebun tersebut tidak dilanjutkan, karena akan digunakan sebagai tempat penanaman pohon matoa.

Upaya seperti ini harus rutin dilaksanakan agar meminimalisasi bencana banjir yang sering terjadi di musim hujan. Di Kota Sentani, hujan hanya beberapa menit saja, seluruh jalan-jalan sudah penuh dengan air.

“Ada pos jaga yang akan dibangun dan memanfaatkan semua komponen pemuda dari seluruh kampung yang ada di danau Sentani. Matoa ini tanaman jangka panjang dan cocok untuk tanaman penyangga, ” ujarnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Related posts

Leave a Reply