Gambut di Kabupaten Merauke harus terus dilindungi

Manager WWF Indonesia Wilayah Selatan Papua, Bernardus RJ Tethool- Jubi/IST
Papua No. 1 News Portal | Jubi

 

Merauke, Jubi – WWF Indonesia untuk wilayah Selatan Papua terus berupaya agar lahan gambut selalu dilindungi.

Read More

Manager WWF Indonesia Wilayah Selatan Papua, Bernadus RJ Tethool mengatakan, jika pemerintah ingin memanfaatkan lahan gambut,  tak boleh ada pembuatan kanal-kanal yang membelah lahan gambut dan menyebabkan pengeringan pada lahan.

Kata Bernadus RJ Tethool, gambut tidak memiliki nilai ekonomis yang bisa menguntungkan. Namun jika ekosistemnya dirusak, justru akan berdampak buruk.

“Saya contohkan saja kebakaran lahan di Sumatera, itu sampai di dalam-dalam. Karena gambut seperti daun yang sudah tinggal lama  dalam tanah dan tak pernah membusuk,” ungkapnya.

Dikatakan, untuk wilayah Kabupaten Merauke, gambut berada di daerah rawa seperti Bian dan sejumlah tempat lain. Jika mendadak kering, menurutnya tidak bagus. Karena ikan juga dipastikan tak berkembang dan secara ekologis, merugikan orang sekitar. Selain itu, sagu juga menjadi kering, lantaran mudah terbakar.

“Memang kami dari WWF berkeinginan membantu masyarakat di sekitar lokasi gambut, hanya saja selama ini negara telah menyiapkan anggaran besar melalui Badan Restorasi Gambut,” ujarnya.

Dijelaskan, Kampung Kaliki, Distrik Kurik menjadi salah satu kampung yang masuk dalam satu kesatuan hidrologis gambut.

“Kami hanya bekerja  untuk pengelolaan hutannya,” ungkap dia.

Dikatakannya, ada masyarakat memahami betul gambut dan menjadi kampung prioritas. Artinya mereka mempunyai dampingan atau kegiatan perencanaan dari Badan Restorasi Gambut.

“Saya meminta kepada Badan Restorasi Gambut agar dapat ditunjukkan ukuran yang  telah berhasil dilakukan dan adakah kendala?  Maksudnya agar kita belajar  sekaligus dapat melanjutkan,” katanya.

Ditegaskan, jika perkebunan kelapa sawit dibuka di lahan gambut, dampaknya sangat besar. Karena ketika gambut terbuka, resiko kebakaran tinggi. Lalu semua sistem hidrologi di situ rusak. Karena rata-rata daerah cekungan  yang isinya gambut, terdapat sagu.

“Intinya adalah jika lahan gambut terbakar, sudah pasti sagu ikut terbakar dan tak tubuh subur, juga ikan di rawa tidak berkembang. Kita tahu bersama salah satu sumber ketahanan pangan di tengah pandemi covid-19 sekarang adalah selain sagu juga ikan,” ungkapnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Merauke, Harmini beberapa waktu lalu mengatakan, ada sejumlah lokasi yang menjadi lahan daerah gambut. Misalnya di Kampung Kaliki dan beberapa wilayah lain.

“Tentunya menjadi tanggungjawab kita semua untuk menjaga lahan gambut dengan tak melakukan kegiatan pembakaran. Karena dampaknya sangat besar,” katanya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Related posts

Leave a Reply