
Tujuan diadakan car free day diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk lebih banyak berjalan kaki, menggunakan kendaraan umum dan kendaraan non polusi.
Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jakarta, Jubi – Car Free Day atau hari bebas kendaraan bermotor di sejumlah ruas jalan di Jakarta yang sudah dilaksanakan sejak 17 tahun lalu dinilai belum mampu meningkatkan kualitas udara di wilayah setempat. Tujuan diadakan car free day diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk lebih banyak berjalan kaki, menggunakan kendaraan umum dan kendaraan non polusi.
“Car Free Day memang belum berhasil meningkatkan kualitas udara secara keseluruhan. Karena belum membangun karakter masyarakat Jakarta untuk meninggalkan kendaraan bermotornya,” kata inisiator Car Free Day DKI Jakarta, Ahmad Safrudin, saat ditemui dalam perayaan Car Free Day ke-17 di Spot Budaya Taman Dukuh Atas, Jakarta Selatan, Minggu, (22/9/2019).
Baca juga : Pencemaran udara di Pekanbaru kondisi berbahaya Indeks kualitas lingkungan hidup di lima provinsi membaik
BNPB: Kualitas Udara di Sumatera dan Kalimantan Membaik
Namun, ia menyebutkan pesan tersebut belum terwujud hingga sekarang. Terbukti dengan tingginya polusi yang berada di wilayah DKI Jakarta yang disumbangkan paling banyak dari kendaraan bermotor.
“Saat ini kendaraan bermotor, yaitu sepeda motor dan mobil menyumbangkan porsi polusi terbesar di Jakarta, yaitu sebanyak 60 persen,” kata Safrudin menambahkan.
Ia mengharapkan selain kesadaran masyarakat untuk meninggalkan kendaraan bermotor, pemerintah juga lebih memperhatikan fasilitas umum bagi pejalan kaki terutama di daerah-daerah yang bukan jalan protokol.
Fasilitas pejalan kaki yang ia maksud tak hanya di kawasan Monas, Menteng dan Kebayoran baru yang setiap dua tahun sekali dibongkar dipercantik lagi. Namun juga kawasan lain seperti di Rawa Belong, Rawasari dan daerah lain yang layak dibangun.
Ia juga menyarankan pemerintah tidak perlu mempercantik trotoar dengan menambahkan pot-pot berukur besar namun lebih memperhatikan fungsi dari trotoar agar tetap nyaman digunakan oleh semua orang.
“Trotoar itu tidak perlu cantik tapi yang penting ada dan nyaman diinjak, kesat dan konturnya tidak patah-patah. Pengguna jalan yang memakai kursi roda juga nyaman,” ujar Safrudin menjelaskan. (*)
Editor : Edi Faisol





