Ada korban lain dalam pelecehan saat rapid test Bandara Soetta

Papua, kekerasan seksual
Ada dua laporan baru yang diluncurkan pada 30 Juli mengungkapkan gentingnya isu KDRT, kekerasan seksual, kekerasan terhadap anak-anak, dan pelecehan seksual terhadap anak-anak di Pasifik dan Timor-Leste. - PINA

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi Pelecehan yang terjadi saat rapid test di Bandara Soekarno Hatta ternyata tak hanya dialami seorang, namun ada perempuan lain mengalami hal yang sama. Hal itu berdasarkan pengakuan seorang perempuan berinisial DD mengisahkan tentang perilaku EFY, tersangka kasus pelecehan dan pemerasan rapid test di Bandara Soekarno-Hatta.

Read More

DD mengisahkan tentang perlakuan EFY setelah ia menjalani rapid test di sana. Ia mengisahkan peristiwa yang menimpanya mirip dengan korban LHI. Saat itu, kata dia, pada Juli 2020 ia sedang cuti dan hendak ke Lampung. Sebelum naik pesawat, ia pun melakukan tes cepat sebagai salah satu syarat penerbangan.

“Berangkat lewat Soetta Terminal 3, rapid test disana juga,” kata DD, dikutip tempo.co.

Baca juga : Polisi selidiki dugaan pemerasan dan pelecehan saat rapid test di Bandara Soetta

Mahasiswa ini melakukan pelecehan seksual dengan modus bungkus kain jarik

Dosen UPR pelaku dugaan pelecehan seksual terancam dipecat

Menurut dia, selama rapid test EFY menanyakan beberapa hal yang menurutnya personal. “Selama tes dia kepo begitu, tanya-tanya di Lampung di mana, berapa lama dan ngapain, minta oleh-oleh juga,” ujar perempuan tersebut.

Usai tes tersebut, DD beranjak meninggalkan lokasi. Tak lama kemudian ponselnya dihubungi pelaku EFY yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pelecehan dan pemerasan rapid test dengan korban berinisial LHI.

“Ini saya dokter Eko,” kata DD menirukan EFY saat menelpon. DD sempat menanyakan EFY tahu nomornya. Ternyata didapat saat mengisi daftar rapid test.

“Jangan lupa ya oleh-olehnya pas nanti kamu pulang, gampang deh nanti aku transfer,’” kata DD menirukan EFY lebih lanjut.

DD merasa tidak nyaman lantaran EFY mengambil nomornya dari data medis yang ia isi untuk keperluan mengikuti rapid test. Ia pun mempertanyakan kepatutan tindakan tersebut.

Sesampainya di kota tujuan, DD menghabiskan waktu dengan keluarga lantaran ia sedang libur kerja. Namun EFY kembali menghubunginya, kali ini bukan sekedar lewat telepon namun videocall.

Tidak hanya sekali dua kali, menurutnya panggilan tersebut dilakukan berulang-ulang setiap hari. “Akhirnya saya WA, ‘ada apa ya dok?’ ‘Jangan lupa ya oleh-olehnya,’” kata DD lagi membacakan jawaban EFY.

Tidak berhenti disitu, EFY pun mengirimkan pesan-pesan yang menurut DD merupakan pelecehan verbal. “Di salah satu obrolan kita dia mengarah ke fisik, ngomongin saya ‘ih kamu tuh seksi banget ya, aku tuh suka gimana gitu kalo ngeliatin kamu,’ langsung saya bentak ‘maksudnya apa ya?’” kata DD.

Menurut dia, EFY berdalih hal tersebut adalah pujian tentang tubuh perempuan tersebut. Selain itu, DD mengaku EFY kerap menuliskan kata-kata diantaranya “kangen” dan “sayang” dalam pesannya. Masih lewat WhatsApp, EFY juga pernah berusaha mengajak DD untuk pergi makan bersama di Bandara.

“Saya bilang dia tolong sopan, hubungan kita hanya dokter dan pasien, tolong jaga profesionalitasnya,” kata DD menanggapi hal tersebut.

Berbeda dengan kasus LHI, menurut DD EFY tidak pernah melecehkan dirinya secara fisik. Hal itu ia sampaikan setelah sempat konsultasi dengan rekan yang pengacara, menurut dia kasus yang ia alami sangat lemah.

Hal itu menjadi alasan ia tidak berencana membawa kejadian yang menimpanya ke ranah hukum maupun berbagai instansi terkait.

“Saya bukan korban, tapi saya cerita sebagai bukti bahwa dokter Eko ini memang punya sejarah berlaku melecehkan,” katanya.

Ia pun mengaku sudah berkontak dengan LHI, dan menyanggupi sekiranya ia akan diperiksa sebagai saksi dalam kasus yang sedang berlangsung.

Sedangkan LHI diketahui saat ini sedang menjalani pemeriksaan polisi terkait tindak pemerasan dan pelecehan yang dialaminya, setelah membuat laporan polisi hari Senin, (21/9/2020). (*)

Editor : Edi Faisol

 

Related posts

Leave a Reply