Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,
Jayapura, Jubi – Pemberitaan media yang menyebut sepanjang Januari hingga 25 April 2017, sebanyak 37 orang meninggal akibat diare di Distrik Awena, Kabupaten Lanny Jaya, Papua disikapi Ignasius W Mimin, anggota Komisi V DPR Papua, komisi yang membidangi kesehatan.
Ia mengatakan, Pemkab Lanny Jaya harus bertanggungjawab. Apalagi, kini 80 persen dana Otsus telah diberikan Pemprov Papua kepada pemerintah kabupaten/kota.
"Dari 80 persen dana itu, yang diutamakan adalah pendidikan dan kesehatan. Pemkab Lanny Jaya dimana. Dana sudah jelas. Harus bertanggungjawab. Pemkab melalui instansi terkait segera bertindak," kata Mimin menjawab pertanyaan Jubi, Rabu (26/4/2017).
Katanya, selama ini Pemkab Lanny Jaya disebut sukses dalam beberapa hal. Namun kalau kondisinya seperti sekarang, pemkab harus segera bertindak.
"Kalau ini benar, dimana keberadaan pemerintah. Saya pikir pemkab bertanggungjawab sepenuhnya. Tapi bisa saja, mungkin karena selama ini bupati dan jajarannya, belum mendapat laporan dari tingkat bawah," ujarnya.
Selain itu kata dia, kasus tersebut baru muncul ke publik mungkin disebabkan sulitnya akses informasi ke Lanny Jaya. Namun apapuan alasannya, pemkab setempat tidak boleh tinggal diam. Komisi V DPR Papua kata dia, juga belum mendapat laporan resmi. Hanya mengetahui dari pemberitaan media.
"Dana besar sudah ada di kabupaten/kota. Kalau ada masalah di masyarakat, segera bertindak. Jangan pernah bilang tidak ada uang," katanya.
Sebanyak 37 warga Kampung Tinggira, Nambume, Eyumi, Uragabur, Yugimia dan Indawa, Distrik Awena, Kabupaten Lanny Jaya diberitakan meninggal dunia medio Januari-April 2017 karena terserang diare.
Pemkab Lanny Jaya telah menurunkan tim kesehatan dan obat-obatan ke Distrik Awena. Sekretaris Daerah Lanny Jaya, Christian Sohilait, juga turun langsung ke Distrik Awena, Selasa (25/4/2017). Ia menugaskan dua dokter umum dan lima perawat membantu petugas medis di distrik itu.
Sementara Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Lanny Jaya Dolly Kogoya mengatakan, warga menderita diare akibat lingkungan yang tidak bersih. Masyarakat juga mengkonsumsi langsung air dari kolam penampungan tanpa dimasak.
"Air yang dikonsumsi masyarakat tanpa dimasak ini sangat kotor, karena sudah melalui kotoran-kotoran manusia atau ternak di sekitar daerah itu. Kami sudah mengambil sampel air yang dikonsumsi masyarakat untuk dibawa ke Jayapura diteliti. Kami juga sudah memeriksa sedikitnya 700 warga dan memberikan obat pencegahan diare," katanya. (*)





