Untuk apa buka pangkalan militer di Pulau Manus?

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Mike Scrafton

Pengumuman Australia dan Amerika Serikat baru-baru ini, mengenai rencana membuka sebuah pangkalan bersama di Lombrum di Pulau Manus di Papua Nugini, telah menuai dukungan positif, namun juga dipandang penuh was-was. Tanpa membahas keuntungannya bagi PNG, yang akan mampu mengerahkan kapal-kapal patroli di daerah itu untuk mengawasi area perairannya, respons atas nilai strategisnya bagi Australia dan biaya kesempatan dalam membangun fasilitas besar yang cocok untuk operasi militer di Asia-Pasifik, tampaknya belum benar-benar diperkirakan.

Beberapa klaim yang keras, mungkin bahkan berlebihan, telah diungkapkan beberapa pihak tentang betapa strategisnya Lombrum, didasarkan oleh pengalaman mereka selama Perang Dunia ke-2. Ada yang berkata bahwa ‘Manus terletak di lokasi strategis yang pas untuk mendominasi Pasifik ini’ dan ‘terletak di posisi penting untuk mengendalikan akses ke Australia melalui kepulauan di utara dan timur laut kita’. Ia juga bisa menjadi ‘pangkalan terdepan dalam upaya pertahanan Nugini dan Australia’. Perannya yang lebih strategis, mungkin, adalah untuk menghadapkan Tiongkok ‘dengan lingkungan yang lebih rumit’.

Pandangan yang lebih sederhana dan realistis datang dari akademisi Sam Bateman, yang mengamati dan mengomentari bahwa, ‘peran paling penting dari pangkalan bersama itu adalah untuk menyediakan bahan bakar bagi kapal, yang melakukan transit sementara melalui area tersebut atau yang sedang beroperasi di luar pangkalan’. Nilai strategis yang sesungguhnya dari suatu pangkalan militer di Lombrum adalah lokasinya yang memungkinkan militer, untuk ‘memantau dan mengontrol aktivitas-aktivitas dari udara dan laut’ yang mendekati Australia dan Barat Daya Pasifik.

Sudah sepantasnya kalau Bateman, dengan kejelian seorang pelaut dalam membaca peta dan memahami geografi, juga memberikan peringatan mengenai ‘penilaian berlebihan yang mengaitkan nilai strategis pulau itu dengan situasi di Laut Cina Selatan’, atau bahkan untuk ‘mengawasi perairan Sulu dan Sulawesi’. Dia dengan jujur menilai bahwa lokasi ‘Lombrum terlalu jauh dari daerah-daerah itu, untuk memungkinkan kontribusi yang berarti’.

Tapi masih ada dua masalah yang perlu diklarifikasi. Apakah benar, ada alasan strategis untuk melakukan investasi besar ini? Pengalaman Perang Pasifik, lebih dari tujuh dekade yang lalu, dengan peralatan militer yang sangat berbeda, terhadap lawan yang berbeda, dan untuk tujuan yang berbeda tidak bisa digunakan sebagai panduan yang berguna, untuk kebijakan di era modern ini. Juga, apakah peran yang direncanakan untuk Lombrum oleh kedua pemerintah merupakan prioritas yang penting?

Dalam dokumen-dokumen perencanaan strategi yang disusun antara tahun 1946 dan 1976, Manus disebutkan 10 kali, semuanya di antara tahun 1946 dan 1947, dan Kepulauan Admiralty hanya disebutkan dua kali, pada tahun 1953 dan 1956. Kedua nama itu disebutkan, terutama, dalam konteks invasi Asia Tenggara dan Indonesia oleh komunis, dan kemungkinan bahwa invasi itu akan melebar ke Australia. Dokumen-dokumen itu tertanggal di awal Perang Dingin.

Apa pun kepentingan strategis Pulau Manus selama dan tepat setelah Perang Dunia II, telah berkurang drastis setelah pecahnya Perang Vietnam. Pulau Manus, sebagai pangkalan militer, sudah tidak disebutkan lagi dalam dokumen pertahanan Australia sejak tahun 1976.

Ini menunjukkan bahwa sesuatu yang penting pasti telah terjadi untuk memicu rencana mendadak ini. Namun, kelihatannya bukan seperti itu.

Laporan tahunan Departemen Pertahanan AS pada tahun 2018 kepada Kongres negara itu, terkait perkembangan militer Tiongkok, menunjukkan bahwa tidak ada langkah penting dalam pengembangan kapasitas militer Tiongkok. Laporan itu melanjutkan bahwa ‘restrukturisasi menyeluruh’ agar bisa menjadi ‘kekuatan yang mampu melakukan operasi gabungan’- secara khusus, untuk melawan ‘konflik regional berdurasi pendek dan intensitas tinggi yang lebih jauh jaraknya dari daratan Tiongkok’. Ini tidak mengherankan.

Menganalisis strategi militer Tiongkok, Pentagon melaporkan bahwa ‘Tiongkok mengantisipasi sebagian besar dari elemen penting konflik modern akan terjadi di daerah perairan’. Namun, kawasan Pasifik tidak diyakini sebagai kawasan dengan ‘kepentingan strategis’ dalam perencanaan militernya. Meskipun tingkah laku Tiongkok seringkali digambarkan sebagai tindakan pemaksaan, tidak ada informasi yang mensinyalir, dalam laporan itu, bahwa Tiongkok memendam minat yang lebih agresif.

Tidak diragukan kalau Tiongkok telah berubah menjadi kekuatan yang besar dalam hal ekonomi dan militer, dan ia masih mengembangkan dan memodernisasikan militernya. Tetapi indikasi yang didapatkan adalah aspirasi itu, ditujukan untuk menumbuhkan kapasitas militer hingga sesuai dengan status dan kepentingannya, untuk dapat berperang dan membela daerah-daerah terdekat ke garis pantainya, jika perlukan, tapi tidak lebih dari itu.

Biaya yang diperlukan untuk membangun Lombrum menjadi aset yang strategis tampaknya belum dihitung — mengingat tingkat kerumitannya. Seperti yang ditekankan oleh Bateman, mendirikan kembali pangkalan itu untuk kapal-kapal perang modern akan memakan biaya yang signifikan, termasuk untuk membangun infrastruktur pengisian bahan bakar, dermaga-dermaga baru, dan akomodasi untuk pasukan militer Australia.

Jika, seperti komentar Peter Jennings, Lombrum direncanakan untuk menjadi pangkalan operasi terdepan dalam konflik regional yang besar, lapangan udara yang ada harus dikembangkan untuk memungkinkan pesawat untuk perlindungan dan pengintaian. Angkatan Udara Australia (RAAF) lalu memerlukan infrastruktur tambahan untuk mendukung operasi dan personilnya.

Sebelum investasi bernilai mahal seperti itu dapat dimulai, pasti ada suatu konsep peperangan dimana ia akan memainkan peran penting. Katakanlah, sebagai contoh, bahwa itu adalah konflik di Laut Cina Selatan atau pesisir Timur Asia. Kapal-kapal dari Manus perlu melintasi jalur-jalur sempit di sekitar Laut Sulu atau mengelilingi Filipina. Musuh seperti Tiongkok, jika merasa terancam oleh Lombrum, masih akan mampu untuk menghalau kapal-kapal itu menggunakan kapal selam, atau menyerang pangkalan dengan rudal melalui udara atau air, dari kapal selam di luar jangkauan pangkalan itu.

Dalam mempersiapkan pertahanan terhadap Tiongkok, seperti yang dikhawatirkan oleh beberapa oknum, membangun kembali pangkalan di Lombrum tampaknya merupakan prioritas yang sangat rendah. Dengan lokasinya yang jauh dari panggung operasi militer dan rentan terhadap serangan, tampaknya rencana ini hanya membuang-buang uang. (The Strategist — The Australian Strategic Policy Institute Blog)

Mike Scrafton pernah bekerja sebagai pejabat senior di bidang pertahan, CEO dari sebuah badan hukum berstatuta, dan sebagai Kepala staf dan penasihat kementerian untuk menteri pertahanan.

Related posts

Leave a Reply