Subsidi Penerbangan Fokus Daerah Pedalaman Papua

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan Papua, Djuli Mambaya Didampingi Para staf - Jubi/Alex
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan Papua, Djuli Mambaya Didampingi Para staf – Jubi/Alex

Jayapura, Jubi – Program subsidi penerbangan yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Papua dengan menggandeng 12 operator penerbangan perintis, fokus melayani daerah pedalaman.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan Papua Djuli Mambaya kepada wartawan, di Jayapura, Rabu (8/6/2016) mengatakan launching penerbangan perintis pada hakekatnya suatu terobosan yang dilakukan oleh Gubernur melalui pihaknya untuk membuka isolasi daerah dan juga menjangkau yang tidak terjangkau.

“Jadi beberapa lapangan terbang yang selama ini tidak terjangkau karena biaya sangat tinggi kami akan jangkau. Ini merupakan solusi pemerintah provinsi sehingga rakyat bisa menikmati pembangunan dan daerah tersebut juga bisa terbuka secara nyata,” katanya.

Untuk itu secara resmi penerbangan subsidi sudah dilakukan, namun secara teknis semua operator penerbangan perintis akan kembali dikumpulkan guna membicarakan proses selanjutnya berupa tender, mengingat program ini masuk dalam APBD Perubahan.

“Intinya ini harus dimulai. Kalau tidak sekarang kapan lagi,” ujarnya.

Mengenai harga tiket subsidi, jelas Djuli, maksimal masyarakat membayar 30 persen dari harga tiket. “Ini karena kemampuan masyarakat di pedalaman sangat miskin. Jadi pemerintah berfikir, mereka harus segera ditolong. Jika tidak mereka bisa mati ditempat itu tanpa bisa dilihat orang lain,” ujarnya lagi.

Soal imbauan jangan ada monopoli penerbangan, kata Djuli, hari ini semua operator penerbangan perintis diantaranya, AMA, MAF, Susi Air, Yajasi, Cenderawasih Air, Alda Air, dan Tariku diundang. Sehingga dipastikan tidak akan terjadi monopoli.

“Kalau ada monopoli nanti dia akan kelabakan sendiri. Justru kami berharap lebih banyak operator lebih bagus,” kata Djuli.

Menurut Djuli, pihaknya sangat jeli dalam melihat daerah mana yang betul betul membutuhkan pelayanan penerbangan perintis. Untuk itu, bagi daerah yang sudah ada program subsidi kami tidak akan masuk lagi.

“Saat ini yang sudah subsidi itu Tolikara dan Pegunungan Bintang, namun subsidi bukan hanya di ibukota tetapi ada beberapa distrik juga,” katanya.

Dia menambahkan, kedepan kemungkinan akan ada subsidi dalam bentuk barang (cargo). Dimana untuk hal ini Gubernur sudah menyampaikan. “Ensesinya, kami harus mendorong rakyat yang ada di pedalaman, supaya bisa bangkit dengan memiliki semangat, dengan demikian harapan hidup akan semakin tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Associated Mission Aviation (AMA) Djarot Soetanto mengaku, pihaknya sangat menyambut baik program subsidi bagi masyarakat. Sebab masalah di Papua adalah mahalnya transportasi.

“Dengan adanya wacana ini semoga bisa direalisasikan dengan baik, dengan demikian banyak pihak masyarakat yang tertolong,” kata Djarot.

Dari sisi operator, ujar Djarot, pihaknya tentu akan berkoordinasi, dalam artian regulasinya nanti seperti apa. “Sehingga kami bisa mengikuti segala persyaratan yang ada, supaya kedepannya tidak ada permasalahan yang terjadi dengan adanya program subsidi yang diberikan pemerintah,” ujarnya.

Sedangkan dari segi kesiapan, lanjutnya, pesawat AMA saat ini beroperasi hampir diseluruh pedalaman Papua. Dengan demikian AMA sudah tahu persis medan yang dilayani. Artinya apa yang harus didahulukan sudah diketahui. Namun pihak AMA akan melihat lebih jauh apa saja yang menjadi konsen dari program subsidi penerbangan perintis.

“Kami ada 12 pesawat dan 11 bisa dipakai untuk melayani baik di Papua maupun di Papua Barat, tergantung nanti rute mana yang diberikan pada kami. Tapi AMA pada hakekatnya masuk ke seluruh lapangan terbang di Papua. Jadi kami tidak ada masalah baik lapangan kecil yang rumput yang tidak bisa dilandasi pesawat jenis karavan, kami punya pilatus,” katanya. (*)

Related posts