
Papua No. 1 News Portal | Jubi
Oleh Dan McGarry di Port Vila
Distribusi pasokan bantuan pasca-Siklon Harold yang dikirim ke Vanuatu oleh pemerintah Australia tertunda karena virus corona, yang kemungkinan akan mengancam nyawa masyarakat.
Minggu lalu Siklon Harold menerjang pulau-pulau di sebelah utara negara Pasifik, Vanuatu, meratakan bangunan dengan tanah dan menewaskan tiga orang – menaikkan jumlah korban tewas internasional menjadi 30.
Mendengarkan permintaan Vanuatu atas bantuan internasional, pemerintah Australia mengirim pesawat Angkatan Udara Australia (RAAF) yang membawa pasokan bantuan kemanusiaan, seperti selimut, lampu lentera, tenda pengungsi, dan alat perlengkapan kebersihan negara itu selang akhir pekan Paskah.
Pesawat RAAF tersebut awalnya tidak dapat mendarat karena sebuah pesawat jet sipil – yang membawa bantuan medis dari Tiongkok untuk membantu upaya Vanuatu melawan virus corona – belum lepas landas pagi itu dan menghalangi landasan bandara.
Pesawat Australia itu berhasil mendarat pada Senin kemarin (13/4/2020) dan menurunkan bantuan yang dibawa, tetapi kargo itu akan ditinggalkan di ibu kota Port Vila selama setidaknya tiga hari untuk dikarantina, akibat kekhawatiran bahwa partikel virus masih mengkontaminasi bahan yang digunakan untuk mengemas bantuan tersebut.
Sejauh ini tidak ada kasus positif Covid-19 di Vanuatu dan pemerintah telah mengambil tindakan tegas untuk mencegah wabah.
Berdasarkan arahan tertanggal 3 April yang diterapkan akibat keadaan darurat Vanuatu yang masih berlangsung hingga kini: “Kecuali dinyatakan secara khusus, semua kargo yang di-desinfeksi dari virus corona harus diletakkan di karantina setidaknya tujuh hari.”
Tak lama kemudian muncul informasi terbaru bahwa persyaratan karantina tujuh hari itu telah dikurangi menjadi tiga hari, khusus hanya untuk bantuan dari Australia. Meskipun tidak ada pengumuman resmi mengenai pengecualian itu yang diterbitkan, pejabat kementerian pertahanan setempat yang bertugas untuk memfasilitasi penerbangan RAAF itu sudah membenarkan adanya pengurangan periode karantina.
Alasan untuk pengecualian tidak diumumkan
Upaya untuk menemukan mengapa pengecualian itu bisa diberlakukan, dan apakah persyaratan karantina yang awalnya tujuh hari masih berlaku, tidak berhasil dilakukan.
Menurut panduan-panduan yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus tersebut dapat bertahan hidup di plastik dan bahan kemasan lainnya selama berjam-jam atau berhari-hari. Panduan itu merekomendasikan agar permukaan yang berpotensi terinfeksi dibersihkan dengan disinfektan yang umumnya digunakan.
Seperti dipindahkan ke tempat yang lain
Dr. Christopher Bartlett, seorang pakar perubahan iklim independen yang tertahan di bagian barat terpencil Pulau Espiritu Santo akibat larangan perjalanan dalam negeri Covid-19 Vanuatu, telah menemani pejabat pemerintah setempat mengunjungi puluhan desa di daerah pesisiran di mana mereka telah melakukan analisis kerusakan dan kerugian.
“Situasi ini bagaikan mimpi yang buruk,” katanya. “Seluruh lanskap telah berubah.”
Di satu desa, ia berkisah, dua anak kecil keluar dari bawa reruntuhan rumah mereka dan bertanya kepada orang tua mereka apakah mereka telah dipindahkan ke tempat yang lain.
Bartlett bisa berkoordinasi dengan otoritas provinsi untuk menangani masalah kesehatan yang mendesak. Dua anak itu menderita patah tulang ketika rumah mereka roboh. Mereka tidak dirawat selama berhari-hari sampai Bartlett bertemu dengan mereka.
“Keperluan bantuan itu mendesak, terutama untuk tempat bernaung. Beberapa jam, hari, itu penting. Masyarakat sekarang tidur di antara reruntuhan rumah mereka,” kata Bartlett.
Bantuan yang tertunda
“Tempat-tempat telah berubah jauh hingga tidak bisa dikenali lagi,” kata Andrew Gray, seorang guru sains sekolah menengah di Pulau Pentecost. “Dalam waktu singkat, tanaman di kebun membusuk karena jalan di mana-mana dihalangi oleh pohon tumbang. Dalam jangka waktu menengah, orang-orang tahu bahwa pemerintah akan mengirimkan bantuan.”
Peraturan karantina tambahan akibat Covid-19 telah menciptakan jeda dalam tanggapan pemerintah, sementara keadaan di wilayah yang terkena dampak Harold adalah yang terburuk dalam memori mereka.
Covid-19 tampaknya juga telah mengurangi donasi. “Dalam 72 jam sejak Siklon Pam, kita sudah menerima AU $ 7 juta [dalam bentuk donasi],” kata Direktur Negara World Vision, Kendra Gates Derousseau. “Jika kita bisa mengumpulkan $ 1 juta pada akhir minggu ini, ini sudah merupakan pekerjaan dengan baik.”
Pengurus Kantor Penanggulangan Bencana Nasional didesak mundur
Wakil Perdana Menteri sementara, Jotham Napat, yang menjadi ketua Komite Nasional Manajemen Bencana saat Siklon Pam terjadi, telah berulang kali menyatakan keprihatinannya bahwa penundaan dapat menyebabkan kematian. Bantuan itu diperlukan, dan sangat mendesak, ia menulis di Facebook pekan lalu.
“Kita memerlukan bantuan logistik, bahan makanan, dan tempat tinggal, dan kita tahu dan berterima kasih kepada teman-teman dan tetangga kita yang telah berkomitmen untuk memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan.”
Beberapa hari kemudian ketika korban tewas yang ketiga dilaporkan, ia menyanggah, menulis, “Satu nyawa lagi melayang… tolong jelaskan mengapa kita tidak bisa menyelamatkan nyawa ini. Apakah itu karena kita terlalu lambat dalam bertindak? Kita memerlukan penjelasan atau saya meminta Direktur dan Direktur Jenderal Kantor Penanggulangan Bencana Nasional (NDMO) untuk secara sukarela mengundurkan diri atau kita akan menemukan cara lain untuk menghentikan mereka karena tidak kompeten.” (The Guardian)
Editor: Kristianto Galuwo






