SENSASI DARI “PRESIDEN”, PARA PEMBISIK DAN NEGARANYA

Ilustrasi

Jayapura, 17/07 (Jubi) – Selama persidangan Forkorus CS yang dituduh melakukan perbuatan makar Melalui Kongres Rakyat Papua (KRP) III, saya mencatat momen-momen sensasional dari Forkorus Yaboisembut, yang mengklaim dirinya sebagai Presiden Negara Republik Federal Papua Barat (NRFPB). Pernyataan-pernyataan beliau ini entah dibisikan oleh siapa, tapi faktanya pernyataan-pernyataan ini belum/tidak terbukti hingga hari ini.

Momen sensasional pertama yang saya catat adalah pernyataan yang menyebutkan bahwa Papua Barat telah didaftarkan Ke PBB pada tanggal 26 Januari 2012 Sebagai Negara Federal yang bernama Republik Federal Papua Barat. Pernyataan ini disampaikan oleh Forkorus Yaboisembut usai persidangannya pada tanggal 8 Februari 2012 di Pengadilan Negeri Jayapura. Forkorus Yoboisembut yang juga Ketua Dewan Adat Papua DAP juga mengklaim, selain memiliki 35 pengacara dalam negeri juga memiliki 6 orang pengacara internasional di Brussel, Belgia.[1]

“Enam pengacara internasional ini akan mendaftarkan Negara Federal Republik Papua Barat di Perserikatan Bangsa Bangsa PBB. Ini surat mereka,” ujar Forkorus saat itu sambil menunjukan surat dari 6 pengacara Internasional tersebut. Sayangnya, saat itu Forkorus tidak menyebutkan siapa-siapa saja keenam orang yang ia sebut sebagai pengacara internasional itu.

Forkorus mengklaim surat pendaftaran Negara Federal Republik Papua Barat telah didaftarkan ke Sekretariat PBB oleh pengacara internasional mereka pada tanggal 26 Januari. Sementara salinan suratnya telah diterima Forkorus Cs dua hari setelah pendaftaran surat itu ke PBB yakni tanggal 28 Januari. Namun hingga hari ini, PBB, baik sebagai institusi penuh maupun melalui organisasi-organisasi dibawah naungan PBB ini tak pernah menyebutkan adanya satu entitas negara baru yang bernama Negara Republik Federal Papua Barat.

Theo Van Den Broek, pengamat politik Papua menanggapi pernyataan Forkorus ini mengatakan, PBB hanya beraksi atas apa yang datang dari anggotanya dan anggotanya adalah negara-negara.[2]

“Saya mengerti bahwa mereka kirim surat. Nah, tidak berarti bahwa surat itu langsung ditangani atau ditaruh di agenda PBB karena yang terjadi, mungkin surat itu dikirim kemudian di administrasi di sana dicatat sebagai surat yang masuk . Surat tersebut diberi nomor dan dijawab bahwa kami sudah terima surat itu. Titik, habis.” kata Theo van den Broek.

Menurut Theo, ini semacam administrasi yang otomatis. Jika ada yang mengirim surat ke instansi tertentu, otomatis yang mengirimkan surat mendapatkan berita bahwa surat sudah diterima. Tapi soal isi surat, itu hal lain lagi. Bisa ditanggap dan bisa tidak ditanggapi.

Momen berikutnya yang tidak kalah sensasional adalah pernyataan yang menyebutkan bahwa tidak lama lagi Negara Papua Barat akan Merdeka dan akan berpisah dari NKRI dan itu hanya tinggal menghitung hari saja. Ini terjadi pada sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jayapura, 28 Februari 2012.[3]

Saat itu, usai persidangan Forkorus Cs menyanyikan lagu-lagu pujian dan langsung melakukan orasi. Dimana dalam orasinya ia menyatakan bahwa tidak lama lagi Negara Papua Barat akan Merdeka dan akan berpisah dari NKRI dan itu hanya tinggal menghitung hari saja, maka itu NKRI harus mengakui kedaulatan Negara Republik Federal Papua Barat (NRFPB) dan menarik seluruh perangkat Negara Indonesia di atas Tanah Papua Barat.

Dalam waktu yang sama, kepada wartawan yang yang dikumpulkan di depan pengadilan Jayapura oleh Forkorus usai persidangan tersebut, Forkorus mengatakan bahwa Papua Barat sudah didaftarkan di komite Dekolonisasi PBB. Ini artinya, menurut Forkorus, Papua Barat sudah masuk dalam daftar negara-negara yang akan dibebaskan oleh PBB dari kolonialisme.

Ini sudah bukan menghitung hari lagi. Tapi minggu, bulan dan tahun. Dan dua provinsi yang ada di Tanah Papua ini masih menjadi bagian dari Indonesia. Apakah yang dimaksud dengan menghitung hari ini adalah menghitung hari hingga 4,5,6,7,8,9 atau 10 digit?

Selanjutnya, pada bulan April 3012 para pendukung NRFPB semakin heboh saat beredar kabar bahwa Forkorus mendapatkan penghargaan sebagai Pembela HAM dari Amnesty International Selandia Baru.[4]  Bahkan di salah satu harian lokal Papua, disebutkan bahwa Forkorus akan menerima Nobel Perdamaian, yang anehnya diberikan oleh organisasi bernama Amnesty International. Public hanya memahami bahwa Nobel hanya diberikan oleh organisasi yang bernama Yayasan Nobel di Swedia. Ternyata, Forkorus hanyalah satu dari sekian orang yang dinominasikan untuk menerima penghargaan dari Amnesty International. Forkorus yang saat itu sudah menjalani masa tahanannya bahkan disebut-sebut sedang diupayakan oleh AI New Zealand untuk diberangkatkan ke New Zealand agar bisa menerima penghargaan tersebut pada tanggal 12 Mei 2012. Informasi yang beredar di dunia maya maupun melalui SMS gencar menyebutkan bahwa sekretariat NRFPB sudah menerima undangan dari AI New Zealand yang ditujukan kepada Forkorus untuk menerima penghargaan tersebut di Auckland.

Informasi tentang penghargaan ini benar-benar tidak masuk akal. Judul penghargaan, organisasi yang memberikan, hingga usaha menghadirkan Forkorus di Auckland tidak ada yang “connect”.  Benar-benar meragukan. Pada akhirnya, AI International di London dan AI New Zealand mengkonfirmasi bahwa informasi yang menyebutkan Forkorus mendapatkan penghargaan tersebut adalah bohong.[5]

Lebih dari itu,  email yang disebut-sebut sebagai undangan kepada Forkorus itu, yakni email dengan attachment undangan berjudul “Drinks Reception” itu ternyata hanyalah email Sampah yang biasa dikirimkan oleh para penipu di dunia maya. Para penipu ini, biasanya memanfaatkan moment atau event tertentu untuk memancing calon korbannya mengirimkan uang sebagai kompensasi atau biaya mengorganisir kehadiran korban mereka dalam event atau moment tersebut. Dan akhirnya, setelah artikel tentang ketidak benaran ini dipublikasikan, Sekretariat NRFPB melalui Yoap Safle mengklarifikasi bahwa Forkorus hanya menjadi nominasi saja.[6] Klarifikasi yang terlambat atau mungkin untuk menutupi maksud lainnya.

Moment-moment sensasional ini masih belum berhenti. Menjelang pertemuan negara-negara Melanesia atau yang dikenal sebagai MSG (Melanesia Spearhead Group), tiba-tiba saja Forkorus mengirimkan surat kepada Sekretariat MSG dengan maksud agar NRFPB dijadikan anggota dalam MSG.[7] Sementara sebelumnya, kelompok West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL) telah mendaftarkan aplikasi keanggotaan MSG di sekretariat MSG. Anehnya, surat yang dikirimkan di penghujung bulan Mei 2013 ini ditarik kembali oleh Forkorus dengan alasan bahwa surat itu bukan dikirimkan oleh dirinya. Dalam surat ini pula, Forkorus memberikan dukungannya kepada kelompok WPNCL yang telah mengajukan aplikasi keanggotaan di MSG.[8]

Dan baru-baru ini, beredar lagi surat dari Negara Republik Federal Papua Barat yang ditandatangani oleh Forkorus Yaboisembut, sebagai Presiden NFRPB . Surat berjudul  “RETURNING TO THE FOLD–WEST PAPUA SEEKING PERMANENT MEMBERSHIP STATUS WITH PACIFIC ISLANDS FORUM (PIF)” disebut-sebut dikirimkan oleh staf khusus Forkorus Yaboisembut kepada sekretariat Pasific Islands Forum untuk meminta keanggotaan NRFPB sebagai observer di PIF. [9]

Menarik untuk ditunggu, apakah nanti akan ada lagi surat berikutnya yang isinya menarik kembali surat pertama seperti yang terjadi pada surat ke sekretariat MSG?

Entah bagaimana kita memandang momen-momen sensasional ini, namun tampaknya, administrasi sekretariat negara yang bernama NRFPB ini perlu dibenahi. Ibarat sebuah airport internasional yang dianggap sebagai personifikasi negara pemilik airport tersebut, sebuah surat yang keluar dari sebuah negara, sudah pasti merupakan surat yang menunjukkan eksistensi, karakter, sikap politik dan budaya negara tersebut. Demikian juga dengan pernyatan-pernyataan dari pimpinan negara itu. Nah, kalau sebuah surat saja bisa seenaknya dikirimkan dan kemudian diralat kembali, eksistensi, karakter, sikap politik dan budaya seperti apa yang dimiliki oleh negara itu? Atau jika pernyataan pemimpin negara bukan beranjak dari satu fakta, apa yang harus dipegang dan dipercaya oleh rakyat negara itu?

Pastinya, kita juga memahami bahwa surat kenegaraan dan pernyataan seorang pemimpin terkadang ditentukan oleh para “pembisiknya”. Dan tidak jarang pula diantara para “pembisik” ini adalah musang berbulu domba atau pemancing di air keruh. Forkorus, mungkin bukan tokoh utama dalam momen-momen sensasional ini. Tokoh utama itu adalah para pembisiknya, para musang berbulu domba dan para pemancing di air keruh. (Jubi/Victor Mambor)



[1] http://cangkang.vivanews.com/aff/news/read/286491–negara-papua-telah-didaftarkan-ke-pbb-

[2] http://z.arsip.jubi.id/index.php/2012-10-15-06-23-41/jayapura/17466-pbb-hanya-bereaksi-atas-apa-yang-datang-dari-anggota

[3] http://hmijayapura.org/aktifitas/kliping-media/83-forkorus-papua-pisah-tinggal-menghitung-hari

[4] http://z.arsip.jubi.id/index.php/2012-10-15-06-23-41/jayapura/17989-forkorus-diundang-menerima-human-rights-defenders-2012

[5] http://z.arsip.jubi.id/index.php/2012-10-15-06-23-41/jayapura/18018-ai-tidak-benar-forkorus-dapat-penghargaan-hrd

[6] http://z.arsip.jubi.id/index.php/kolom-redaksi/18332-ai-aoteroa-hrd-awards-nobel-prize-for-human-right-dan-nobel-perdamaian

[7] http://pacific.scoop.co.nz/2013/05/imprisoned-president-pleads-for-pacific-recognition/

[8] http://pacific.scoop.co.nz/2013/06/west-papua-republic-leaders-open-letter-to-msg-from-abepura-prison/

[9] http://www.rnzi.com/pages/news.php?op=read&id=77572

Related posts