Selenggarakan workshop untuk guru SMA, IASA kembangkan metode praktis dalam mengajar

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Sejumlah profesor yang tergabung dalam Indonesian American Society of Academics (IASA) menyelenggarakan workshop sistem sekolah berasrama dan kurikulum terintegrasi di Kota Jayapura, Senin – Jumat (9-13 Juli 2018).

Workshop bertema “Strategi ajar abad 21 guna menjawab tantangan berat pendidikan di Papua” disiapkan oleh sekitar 20 orang profesor yang selama ini menjadi pengajar di beberapa perguruan tinggi di Amerika Serikat. 75 orang guru terlibat dalam workshop ini. Mereka merupakan guru di dua SMA di Papua, yakni SMA Adi Luhur Nabire dan SMA III Kota Jayapura.

Kepada Jubi, Hamdan Hamedan (Direktur Eksekutif) Indonesia Diaspora Network United (IDNU) yang menyelenggarakan workshop bersama Bappenas dan Kementerian Pendidikan Indonesia mengatakan selama 18 bulan terakhir, IASA telah bekerja sama dengan beberapa kementerian di Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan di Papua dan Papua Barat.

BACA Sekolah dibantu IASA mulai jalan Juli 2018

“Setelah menandatangani Perjanjian Kerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada Februari 2018, IASA berusaha untuk mentransformasi dua sekolah menengah atas, yaitu SMA Negeri 3 (Jayapura) dan SMA YPPK Adhi Luhur (Nabire), menjadi sekolah berasrama dengan Kampus Residensial,” ungkap Hamdan,

Sistem Sekolah Berasrama ini, menurutnya akan menerapkan kurikulum terintegrasi yang akan didukung oleh kegiatan ekstrakurikuler yang menantang untuk menciptakan kehidupan siswa dengan tingkat produktivitas yang tinggi. Fasilitas “Science Park” akan dibangun untuk membawa alat pembelajaran digital terkini ke sekolah dan ruang kelas, dan untuk memadukan teknologi ke dalam lingkungan belajar-mengajar. Program ini akan dimulai pada tahun ajaran 2018-2019 dan akan dimulai dengan kelas 10.

BACA Diaspora Amerika membantu sekolah berasrama

Dalam kesempatan terpisah, Herry Utomo, PhD, Presiden IASA menjelaskan bahwa IASA telah mengembangkan metodologi khusus yang disesuaikan dengan kondisi pembelajaran Papua untuk memandu perubahan yang diperlukan.  IASA menurut Herry yang juga seorang profesor di Louisiana State University akan menggunakan teknologi pembelajaran interaktif terkini untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif.

“Dengan demikian kita bisa memangkas jam pelajaran di kelas namun mengintensifkannya di asrama. Sehingga asrama tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal saja, tapi juga tempat belajar,” ujar Herry.

Profesor ini juga menambahkan salah satu metodologi mengajar yang akan dikembangkan oleh IASA dalam program ini adalah menggabungkan dua mata pelajaran dalam satu jam mengajar. Ia mencontohkan mata pelajaran biologi dan bahasa Indonesia bisa dipelajari dalam satu jam pelajaran yang sama. Saat ujian, materi uji dirancang untuk mendapatkan dua hasil ujian dari dua mata pelajaran tersebut.

BACA Puluhan profesor Indonesia di Amerika Serikat lakukan survei pendidikan di Papua

“Konten jawaban siswa bisa menjadi hasil ujian biologi dan bagaimana siswa menjelaskan jawaban mereka akan menjadi hasil ujian bahasa Indonesia,” ungkap Herry.

Meski optimis program ini bisa berjalan di Papua, menurutnya butuh dukungan stakeholder setempat agar program bisa terlaksana sesuai target yang ingin dicapai.

"Tak hanya pemerintah daerah, peran tokoh masyarakat sangat dibutuhkan juga," sambung Herry.

Program IASA ini mentargetkan penerapan pembelajaran terintegrasi berbasis daya nalar tingkat tinggi, penerapan teknologi berbasis tablet system dengan aplikasi khusus yang dikembangkan oleh IASA sesuai kultur belajar di Papua dan menciptakan suasana pembelajaran menggunakan platform ajar yang menyenangkan bagi murid dan guru. (*)

Related posts

Leave a Reply