Selangkah lagi Israel punya pemimpin baru tanpa Netanyahu

israel Papua
Ilsutrasi, Ist/Jubi

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Negara Israel akan punya pemimpin baru seiring berakhirnya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setelah 12 tahun menjabat. Tercatat kepemimpinan Netanyahu berada di ujung tanduk setelah koalisi partainya, Likud, kembali gagal membentuk kabinet pemerintahan meski meraup mayoritas suara dalam pemilihan umum pada Maret lalu.

Read More

Pesaing utama Netanyahu, Yair Lapid dan partainya Yesh Atid, telah diberi mandat oleh Presiden Reuven Rivlin untuk membentuk pemerintahan baru hingga tenggat waktu hingga Rabu (3/6/2021) mendatang.  Ia wajib mendirikan koalisi yang setidaknya terdiri dari 61 anggota di parlemen Knesset. Perintah itu dikeluarkan setelah Netanyahu gagal membentuk pemerintahan dalam tenggat waktu yang ditentukan setelah memenangkan pemilu.

Baca juga : Demonstrasi mendesak Netanyahu mundur semakin meluas 

Netanyahu dan Gantz gagal bersepakat 

Datangi kawasan Al-Khalil, ini janji Netanyahu ke warga Yahudi

Lapid saat ini telah menggaet Partai Biru Putih yang dipimpin menteri pertahanan Israel saat ini, Benny Gantz, dan Partai Harapan Baru milik eks sekutu Netanyahu, Gideon Saar. Selain itu, Partai Usrael Beitenu, Partai Buruh, dan Meretz, juga akan bergabung dengan koalisi Lapid.

Lapid juga sedang membujuk politikus nasionalis garis keras, Naftali Bennett, dan partainya, Yamina, beserta politikus kaum Arab-Israel lainnya untuk membentuk koalisi tandingan Netanyahu.

Dalam negosiasinya, Lapid bahkan telah menawarkan berbagi kekuasaan dan mengizinkan Bennett berkuasa sebagai PM selama satu periode yang nantinya akan digilir. Pada Minggu (30/5), Bennett, setuju bahwa dia akan bersatu dengan Lapid dalam membentuk koalisi kabinet.

Pihak Lapid dan Bennettt disebut memulai pembicaraan pada Minggu malam untuk meresmikan kesepakatan tersebut.

Dalam pemilu Maret lalu, yang keempat dalam dua tahun terakhir, Yamina memenangkan tujuh kursi, namun seorang anggota partai menolak bergabung dengan koalisi anti-Netanyahu.

Sedangkan Netanyahu mengecam kesepakatan Lapid dan Bennett dengan menganggap rencana lawan politiknya itu “bahaya bagi keamanan Israel.” Dalam posisi terdesak, Netanyahu dikabarkan mencoba mempertahankan kekuasaan dengan menawarkan perjanjian serupa kepada sejumlah mantan sekutunya, termasuk Bennett. Ia memperingatkan jika kabinetnya berakhir maka Israel akan dipimpin oleh aliansi “sayap kiri” yang berbahaya. (*)

CNN Indonesia

Editor : Edi Faisol

 

Related posts

Leave a Reply