Papua No.1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Pemimpin oposisi Vanuatu, Ralph Regenvanu, mendesak Australia untuk tidak menanam kava.
Ini terjadi di tengah pengungkapan bahwa ada rencana di Queensland untuk menanam kava, yang sampai sekarang telah dilarang, sebagai tanaman dan sebagai impor, di Australia.
“Saya ingin mengatakan kepada Australia, teman kami, jangan menanam kava. Jangan biarkan kava tumbuh di Australia secara komersial, buat itu ilegal tetapi buatlah legal bagi kami untuk mengekspor kava Vanuatu kepada Anda. Itu adalah permintaan Vanuatu dan Kepulauan Pasifik lainnya,” kata Regenvanu, dilansir rnz.co.nz, Sabtu (21/8/2021).
Regenvanu mengatakan jika Australia menanam kava akan ada pasar yang besar, tetapi Vanuatu tidak memiliki kava dalam jumlah besar untuk diekspor. Ia mengingatkan adanya ungkapan lama bahwa Australia dan Vanuatu memiliki hubungan pertemanan yang erat, karenanya Regenvanu meminta agar Australia tidak boleh mengizinkan penanaman dan produksi kava secara komersial karena akan berdampak buruk pada Vanuatu.
Senada dengan Regenvanu, Ketua Petani Kava di Port Vila, Jean Guillaume Sanibo, mendukung permohonan tersebut. Sanibo mengatakan apabila penanaman kava secara komersial dilakukan oleh pihak Australia, hal itu akan menjadi bencana bagi orang-orang Vanuatu di daerah pedesaan.
Sanibo mengatakan kava adalah sumber pendapatan utama bagi masyarakat di pedesaan, yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Dan lagi, masyarakat desa itu hanya tenaga kerja yang bertugas menanam kava. Sementara, Australia akan menggunakan mesin dengan lahan yang luas, dibandingkan dengan pulau-pulau kecil di sini.
Sanibo mengimbau pemerintah Vanuatu untuk membela kepentingan petani kecil yang menanam kava di negara itu. (*)
Editor: Kristianto Galuwo






