Penyebaran Ebola di Konggo dipicu pasien kabur

Papua, perawatan pasien Ebola
Isolasi penderita ebola, pixabay.com
Isolasi penderita ebola, pixabay.com

Jumat pekan lalu sopir taksi berusia 28 tahun, yang menggunakan sepeda motor, kabur dari tempatnya dirawat di Kota Beni.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Read More

Beni, Jubi – Keganasan Ebola di Kongo timur kemungkinan menyebar lagi setelah seorang pasien kabur dari sebuah klinik. Kondisi itu semakin mempersulit upaya pencegahan penyakit yang telah menginfeksi enam orang sejak pekan lalu.

Republik Demokratik Kongo menyebut akan berakhirnya epidemi Ebola terbesar kedua dunia ketika rantai infeksi baru ditemukan pada 10 April, setelah lebih dari tujuh pekan tanpa adanya kasus baru.

Sejak itu otoritas kesehatan berupaya menekan penyebaran infeksi baru. Namun pada Jumat pekan lalu sopir taksi berusia 28 tahun, yang menggunakan sepeda motor, kabur dari tempatnya dirawat di Kota Beni.

“Kami menggunakan semua opsi untuk membawanya keluar dari masyarakat,” kata Boubacar Diallo, wakil manajer operasi tanggap Ebola WHO, Minggu, (19/4/2020) kemarin.

Ia menduga adanya kasus sekunder dari pasien yang kabur tersbut.  Sementara itu kondisi konflik puluhan tahun dan tata pemerintahan yang buruk menggerus kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah di Kongo. Meski Ebola telah menelan lebih dari 2.200 orang sejak Agustus 2018, peneliti menunjukkan banyak komunitas meyakini bahwa penyakit itu tidak sungguhan.

Wabah kecil biasa terjadi menjelang berakhirnya epidemi, namun petugas kesehatan perlu memastikan virus tersebut mampu dicegah melalui pelacakan, karantina dan vaksin terhadap kontak kasus baru.

“Semuanya sedang berkoordinasi dengan pihak berwenang, para pemuda dan masyarakat sipil untuk menemukan si pasien. Pencarian masih berlangsung,” kata Diallo menjelaskan. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Related posts

Leave a Reply