Penambangan bawah laut di PNG: ancaman bagi ekosistem laut dan budaya (Bagian 1)

Eliuda Toxoc mengungkapkan bahwa semakin lebih sulit menangkap ikan hiu akibat penambangan bawah laut. - The Guardian/ Kalolaine Fainu

Papua No.1 News Portal | Jubi

Kebiasaan yang disebut ‘Shark calling’, tradisi dari Papua Nugini dimana orang-orang bernyanyi untuk memanggil ikan-ikan hiu lalu menangkap mereka dengan tangan, bisa punah dalam waktu dekat – dan masyarakat setempat percaya hal itu disebabkan oleh gangguan di laut dalam.

Dalam tradisi ini, untuk menangkap ikan hiu di perairan Papua Nugini, pertama-tama para laki-laki yang terlibat akan bernyanyi. Mereka menyanyikan nama nenek moyang mereka dan mengumandangkan penghormatan mereka terhadap ikan hiu. Mereka mengayunkan kerincingan dari tempurung kelapa ke arah laut, memikat binatang itu agar naik dari dalam laut, dan kemudian menangkapnya menggunakan tangan kosong.

Read More

Tradisi itu, yang disebut ‘shark calling’, dipraktikkan di tiga desa, Messi, Kono dan Kontu, yang berlokasi di pantai barat Provinsi New Ireland di Papua Nugini, sebuah negara dengan populasi sekitar 9 juta orang di sebelah utara Australia.

Hal ini berakar pada keyakinan bahwa hiu itu membawa roh nenek moyang mereka, dan bahwa dengan mengikuti prosedur yang ketat, orang-orang yang itu ‘shark calling’ dapat mengumpan, menangkap dan membunuh hiu dengan meminimalkan rasa sakit yang dialami ikan hiu.

Tetapi masyarakat dari desa-desa ini khawatir budaya ini sekarang terancam dan bisa punah dalam satu generasi. Selang festival ‘shark calling’ baru-baru ini di Messi, orang-orang di pantai menangis ketika armada perahu masyarakat kembali hanya dengan membawa dua ikan hiu. Perahu-perahu yang kembali dengan tangan kosong sekarang semakin sering terjadi.

Tradisi ini semakin terancam oleh operasi penebangan hutan dan pelannya disintegrasi budaya tradisional. Tetapi penduduk setempat juga menyalahkan punahnya praktik budaya yang sangat dicintai ini pada sebuah industri yang baru dimulai dan sedang diuji coba di daerah perairan mereka: penambangan bawah laut.

Menorehkan permukaan bawah laut

Sementara dunia masih dalam perdebatan sengit tentang apakah perairan internasional dapat dibuka bagi perusahaan-perusahan besar yang tertarik untuk melakukan penambang bawah laut, Papua Nugini adalah salah satu dari beberapa negara dimana ada eksplorasi penambangan bawa laut di dalam kawasan perairannya.

Pada 2008, perusahaan pertambangan asal Kanada, Nautilus Minerals, menyerahkan laporan AMDAL-nya kepada pemerintah Papua Nugini untuk memulai aktivitas penambangan di Laut Bismarck, di Provinsi New Ireland, sebelah timur daratan PNG.

Nautilus telah diberikan izin dari pemerintah PNG untuk mengebor deposit seafloor massive sulphide (SMS) di sekitar ventilasi-ventilasi hidrotermal bawah laut. Area proyek yang ditargetkan itu bernama Solwara 1 (atau Air Laut 1) dimana dilakukan ekstraksi tembaga, emas, perak, dan seng, lokasinya hanya 30 km dari komunitas di pesisir New Ireland.

Pada 2019, setelah mengalami persoalan keuangan yang berkepanjangan, Nautilus mengalami likuidasi dan secara resmi dinyatakan bangkrut.

Meskipun itu gagal sebelum bisa melakukan ekstraksi, menurut masyarakat setempat akibat aktivitas eksplorasi Nautilus, mesin-mesin besar yang digunakan telah merusak kehidupan laut dan mengganggu tradisi dan budaya mereka.

Budaya yang sekarat

Eliuda Toxoc, salah satu warga dari Desa Messi, adalah peserta yang ulung dalam proses ‘shark calling’. Dia mengatakan bukan hanya penambangan bawah laut yang mengganggu ekosistem laut, namun ini juga semakin parah akibat operasi penebangan hutan yang juga menjadi masalah lingkungan hidup di daerahnya. Namun ia masih ingat dengan jelas apa yang terjadi ketika kapal Nautilus datang untuk melakukan eksplorasi penambangan di dalam laut.

“Hal itu saja sudah cukup mengganggu dan menakuti hiu,” kisahnya. “Sebelumnya ada banyak hiu yang bisa kami tangkap, ada banyak sekali. Setiap kali kami keluar ke lautan untuk ‘shark calling’, kami pasti kembali dengan setidaknya satu ekor hiu. Tetapi sekarang sudah lebih sulit. Ada banyak gangguan di air dan banyak suara dalam laut yang membuat hiu itu takut.”

Dampaknya pun tidak terbatas hanya pada kemampuan masyarakat di desa untuk menangkap sumber makanan mereka dan bertahan hidup. “Budaya kita juga sekarang sekarat,” tuturnya, kesedihan terlihat di wajahnya yang termakan usia.

Putra Eliuda, Amos Lavaka, mengungkapkan bahwa ‘shark calling’ itu sangat penting bagi warga desanya. “Kami menyimpan cerita-cerita dan kearifan yang memungkinkan kami untuk dapat melakukan dan meneruskan tradisi ini, untuk dapat berbicara dengan hiu. Dan juga, itu adalah makanan kita.

“Kapal-kapal angkut gelondong pohon dan penambangan di laut – ada banyak gangguan yang baru di darat dan di dalam laut,” tambahnya. “Laut yang bising dan dampak dari sedimen serta pergerakan yang baru di dalam laut itu menyebabkan sehingga ikan hiu menjauh. Mereka tidak lagi datang. Sekarang lebih sulit dari sebelumnya untuk menangkap hiu, karena mereka bersembunyi.”

Namun perusahaan Nautilus telah membantah adanya dampak ini terhadap masyarakat pesisir, dengan menekankan bahwa wilayah dimana mereka diizinkan untuk beroperasi itu berjarak setidaknya 30 km dari komunitas nelayan.

Pemerintah provinsi New Ireland, dalam sebuah pernyataan kepada Guardian, menyatakan bahwa Nautilus juga telah membawa keuntungan bagi daerah-daerah di sekitar operasinya melalui serangkaian program pengembangan masyarakat, termasuk program kesehatan, proyek air dan sanitasi, dan telah membangun sebuah jembatan di dekat Kokola. (The Guardian)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Related posts

Leave a Reply