Papua No. 1 News Portal | Jubi
Suva, Jubi – Pemimpin kudeta pertama dan kedua Fiji berjanji mengembalikan kebebasan demokrasi di negara itu, jika terpilih sebagai Perdana Menteri dalam pemilihan akhir tahun ini.
Sitiveni Rabuka adalah pemimpin partai oposisi, SODELPA, dan menjadi prominen sejak 1987 ketika ia menggulingkan pemerintahan terpilih saat itu, Timoci Bavadra.
Sejak saat itu itu Rabuka telah meminta maaf atas perannya dalam melahirkan budaya kudeta Fiji.
Dia berjanji jika terpilih akan membatalkan keputusan-keputusan yang, menurutnya, memberikan pemerintah Fiji saat ini kekuatan otoriter berlebihan.
Rabuka pun mengutip beberapa keputusan yang ia maksud, termasuk di antaranya pembatasan kebebasan media oleh pemerintah, larangan terhadap rakyat untuk protes secara damai, dan larangan atas rakyat Fiji untuk mengkritik pemerintah secara terbuka.
“Undang-undang sedition masih berlaku di Fiji, sementara di sebagian besar negara lainnya UU ini telah dihapuskan, sebagai cara untuk menunjukkan kebebasan yang sejati, untuk mengkritik pemerintah secara objektif.”
Rabuka menambahkan bahwa dia sedang menunggu pemerintah untuk mengumumkan tanggal pemilihan nasional, yang menurut jadwal akan dilaksanakan pada 22 November mendatang.
Sitiveni Rabuka juga mengatakan, jika terpilih sebagai perdana menteri, dia akan memulihkan dan memperkuat hubungan regional negara itu dengan Australia dan Selandia Baru.
Rabuka mengatakan kecenderungan geopolitik negara itu terhadap Tiongkok selama satu dekade ini, disebabkan karena dukungan yang dulunya sering diterima oleh berbagai bagian Pemerintah Fiji dari dua mitra tradisionalnya itu, semakin memudar.
Dia mengungkapkan bawah sebelumnya, Fiji berjuang bersama-sama Australia dan Selandia Baru, untuk mempertahankan kepentingan bersama mereka tetap strategis, dan ini termasuk kawasan pasifik yang bebas dari pengaruh asing.
Rabuka menegaskan bahwa apa yang sebelumnya diperjuangkan Fiji dalam masa perang dunia, justru sekarang disambut dengan tangan terbuka, secara ekonomi dan politik, oleh pemerintah saat ini.
Rabuka menekankan bahwa tren ini akan berubah jika dia menjabat sebagai perdana menteri.
“Saya ingin memulihkan kembali dan memperkuat hubungan regional kita dengan mitra-mitra lama kita, Australia dan Selandia Baru. Kita lebih mengetahui bagaimana cara kerja mitra tradisional kita, daripada kita berjalan dengan seseorang yang lebih besar dan baru,” katanya. (RNZI)





