Papua No.1 News Portal | Jubi
Port Moresby, Jubi – Pemerintah Papua Nugini diperkirakan akan mengumumkan karantina wilayah untuk empat minggu di tiga provinsi untuk menanggapi lonjakan kasus Covid-19, sementara negara itu rentan akibat cakupan vaksinasi dan tingkat pengujian yang sangat rendah.
Penjabat Plt. Perdana Menteri PNG, Soroi Eoe, mengatakan penyebaran varian Delta telah mendorong para pejabat mengambil keputusan untuk mengisolasi Provinsi Barat, Sepik Barat dan Pegunungan Tinggi Timur.
“Varian Delta itu sangat cepat menular dan merupakan ancaman yang sangat serius dan sudah sampai di Papua Nugini, dan sesuatu yang harus kita selesaikan,” tegasnya kepada wartawan.
Eoe juga membantah kabar angin yang beredar tentang rencana lockdown nasional, ia menekankan bahwa karantina wilayah untuk tiga provinsi pun tidak akan terlalu ketat dan mereka masih akan mengizinkan kegiatan ekonomi untuk terus berlangsung.
“Ini adalah karantina wilayah yang bersahabat. Ini harus menjadi karantina wilayah yang dapat diterima oleh masyarakat kita, tetapi pada saat yang bersamaan masih mengakui keseriusan penyakit ini.”
Ia juga mengungkapkan bahwa acara perayaan hari kemerdekaan PNG yang ke-46 pekan lalu telah bertindak sebagai Penyebar Super.
Anna Maalsen, Perwakilan WHO di PNG, menyambut baik langkah-langkah kesehatan masyarakat yang baru tersebut.
“Kasus Covis-19 sudah meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan bulan sebelumnya, dari 301 kasus dikonfirmasikan menjadi 968 kasus,” katanya kepada Pacific Beat.
Maalsen juga mengakui bahwa penerapan karantina wilayah di PNG sejauh itu susah dilakukan dan meskipun upaya untuk memetakan genom varian virus itu terbatas, tingkat penularan infeksi yang tinggi di Provinsi Barat menunjukkan adanya varian Delta.
Beberapa rumah sakit yang lokasinya dekat dengan perbatasan PNG dengan Indonesia dilaporkan sudah mencapai kapasitas penuh, sementara manajer fasilitas kesehatan di daerah-daerah lain di negara itu mulai bersiap untuk menerima lonjakan pasien Covid-19.
Tenaga kesehatan PNG termasuk kelompok yang paling paling rentan dan mencakup 9% dari 18.808 kasus virus Corona yang dikonfirmasikan di negara itu.
Maalsen percaya bahwa pihak berwenang PNG sekarang mencari cara inovatif untuk menyelesaikan masalah tersebut, termasuk memberdayakan perawat yang baru lulus dan pensiunan tenaga kerja medis. Ia lalu menambahkan kalau tenaga kesehatan di sana semakin meningkatkan upaya mereka untuk meningkatkan cakupan vaksinasi dengan berfokus pada pesan akar rumput dan berbicara langsung dengan orang-orang.
Data terbaru menunjukkan bahwa kurang dari 1% populasi targetnya yang sudah menerima vaksinasi lengkap. (Pacific Beat)
Editor: Kristianto Galuwo






