Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,
Jayapura, Jubi – Ketua STFF “FT” Abepura, Jayapura P. Dr. Neles Tebay, Pr mengatakan, momentum peluncuran tiga buku sastra Papua sangat tepat untuk meminta Pemprov Papua serta Pemkab dan Pemko di Papua memperhatikan nasib komunitas sastra, terutama Komunitas Sastra Papua (Ko’Sapa).
“Pemeritah daerah agar membuat kebijakan untuk membantu proses penerbitan selanjutnya dan pendistribusian hasil terbitan, sebab dana otonomi khusus yang dikelola pemda harus memperhatikan Ko’Sapa karena mereka mengangkat nilai-nilai budaya melalui karya tulis sastra,” katanya saat berbicara pada acara peluncuran di Aula Tunas Harapan Jayapura, Sabtu (21/5/2017).
Ko’Sapa meluncurkan tiga buku sastra, yaitu Antologi Cerpen “Aku Peluru Ketujuh” karya Teopilus B. Tebai, Kumpulan Puisi “Kansina Fananin” karya Jingga Kamboja, dan Tetesan Embun Inspiras Dari Papua karya Aleks Giyai.
“Pemerintah daerah perlu membantu proses peningkatan Sastra Papua ini, kita harapkan untuk membantu dana pencetakan karya-karya sastra Papua, juga membantu distribusi ke sekolah-sekolah di seluruh Tanah Papua ini, karena dua hal ini susah ditangani oleh Ko’Sapa,” ujar Neles Tebay.
Menurutnya bantuan tersebut tidak perlu banyak, hanya agar karya anak-anak negeri ini bisa ditemukan di semua sekolah, mulai dari SD hingga SLTA.
“Mari kita menulis sastra Papua tentang Papua ini, kita sendiri yang harus tulis supaya keaslian Papua itu Nampak, karena itu yang paling utama bagi generasi muda Papua ialah mulailah menulis sastra,” katanya.
Pendiri Ko’Sapa, Andy Tagihuma mengatakan, didirikannya komunitas tersebut karena minimnya perkembangan sastra di Papua yang menjadi tantangan serius dewasa ini. Kekhawatiran tumbuh seiring begitu cepatnya modernisasi dan orang Papua yang masih mengidap budaya tutur.
“Tentang ini justru bukan untuk membuat kita mundur, tapi satu kekuatan baru untuk menumbuhkembangkan sastra di tengah arus modernitas di Tanah Papua,” katanya. (*)





