PBB tak bisa gunakan dana ratusan jutaan dolar di bank Afghanistan

Uang Papua
Ilustrasi, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki dana sekitar 135 juta dolar AS  atau sekitar Rp1,9 triliun di bank di Afghanistan namun tak dapat digunakan karena bank sentral yang dikelola pemerintah Taliban tidak dapat menukarnya dengan mata uang lokal

Read More

Kepala Program Pembangunan PBB (UNDP) di Afghanistan, Abdallah al Dardari mengatakan PBB telah membawa dana tersebut ke negara itu dan menyimpannya di Bank Internasional Afghanistan (AIB) dengan janji yang jelas dari bank sentral bahwa uang segar akan secara otomatis dikonversi ke afghani.

“Konversi ini tidak terjadi,” kata Abdallah di ACAMS Global Sanctions Space Summit, dikutip Antara dari Reuters  Jum’at, (4/2/2022).

Baca juga : Pegawai negeri Afghanistan mulai terima upah
Taliban kuasai Afghanistan, Presiden Ghani kabur dengan banyak uang tunai
Krisis ekonomi mengintai Afghanistan satu bulan setelah dikuasai Taliban

Menurut Abdallah, UNDP sendiri memiliki 30 juta dolar AS  atau Rp 431 miliar yang tertahan di AIB. “Namun tidak dapat saya ubah ke afghani dan tanpa afghani, seperti yang Anda bayangkan, kami tidak dapat mengimplementasikan semua program kami,” kata Abdallah menjelaskan

Taliban, yang merebut kekuasaan pada Agustus, melarang penggunaan mata uang asing di negara itu di mana dolar AS umum digunakan. Kelompok militan itu telah lama dikenai sanksi internasional. Menurut PBB dan kelompok-kelompok bantuan, Taliban kini menghalangi operasi kemanusiaan di Afghanistan, di mana separuh lebih dari 39 juta penduduk negara itu menderita kelaparan ekstrem, sementara ekonomi, pendidikan, dan layanan sosial menghadapi kehancuran.

Miliaran dolar dalam cadangan bank sentral Afghanistan dan bantuan pembangunan asing telah dibekukan untuk mencegah dana itu jatuh ke tangan Taliban.

Bank-bank internasional berhati-hati untuk tidak melanggar sanksi, sehingga PBB dan kelompok bantuan berjuang untuk mendapatkan cukup uang ke negara itu.

Likuiditas juga menjadi masalah. Al Dardari mengatakan kepada Reuters pada November meski ada afghani senilai 4 miliar dolar AS atau Rp 57,5 triliun dalam perekonomian Afghanistan, namun hanya sekitar 500 juta dolar atau Rp5,1 triliun yang beredar.

“PBB dan Bank Dunia sedang mendiskusikan kemungkinan fasilitas pertukaran mata uang,” kata kelompok bantuan dan pejabat PBB.

Al Dardari mengatakan pada Kamis bahwa fasilitas ini akan memungkinkan uang tunai untuk operasi kemanusiaan dibayarkan ke dalam satu mekanisme di luar negeri dan kemudian afghani dapat dikumpulkan “dari pedagang besar dan perusahaan-perusahaan berbasis internet dari dalam negeri Afghanistan.”

Dia juga mengatakan pelajaran dapat dipetik dari sebuah program di Myanmar, di mana sistem pembayaran elektronik tak menggunakan jalur bank sentral. Militer Myanmar telah terkena serangkaian sanksi oleh AS dan lainnya sejak kudeta tahun lalu. (*)

Editor : Edi Faisol

Related posts

Leave a Reply