PBB, New York, Jubi – Pembunuh terbesar bagi anak-anak di Republik Afrika Tengah (CAR) bukan peluru tapi kekurangan gizi, malaria, infeksi saluran pernafasan dan diare, kata seorang juru bicara PBB di Markas Besar PBB pada Senin (11/4/2016).
“Angka kematian anak di bawah lima tahun, di 11 dari 16 yurisdiksi di seluruh negeri termasuk di ibu kotanya, Bangui, saat ini berada di atas angka darurat,” kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric, mengutip keterangan dari beberapa lembaga kemanusiaan PBB.
Jumlah orang yang kelaparan juga berlipat dibanding tahun 2015, dan separuh dari mereka tak bisa memperoleh akses ke makanan yang memadai, kata Dujarric, sebagaimana diberitakan Xinhua–yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa (12/4/2016).
Lembaga bantuan di Republik Afrika Tengah memerlukan 531 juta dolar AS tahun ini untuk membantu sebanyak 1,9 juta orang memenuhi kebutuhan dasar mereka berupa air, tempat berteduh, dan kebersihan, katanya.
Kelompok bersenjata Seleka menggulingkan pemerintah lama Republik Afrika Tengah pada tahun 2013.
Pemimpinnya, Michel Djotodia, menjadi presiden pada Maret 2013 tapi mengundurkan diri pada Januari 2014.
Republik Afrika Tengah menyelenggarakan pemilihan presiden pada pertengahan Februari, dan mantan perdana menteri, Faustin Archange Touadera, memenangkan pemilu itu.(*)
