Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1
Nabire, Jubi – Penanggung jawab Poliklinik St. Rafael Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Bukit Meriam, Naire, dr. Pingki Pancawardani mengatakan, hampir tiap saat pasien yang berobat di poliklinik tersebut ialah Orang Asli Papua (OAP).
“OAP lebih banyak datang ke sini dan itu hampir tiap saat dengan berbagai keluhan, terutama usia produktif,” katanya kepada Jubi di ruang kerjanya, Selasa (21/3/2017).
Pasien yang datang, lanjutnya, kebanyakan pasien HIV/AIDS yang berusia remaja.
“Yang biasa datang itu anak-anak muda, ada siswa SMP dan tingkat SMA, tapi itu OAP,” ujarnya.
Dikatakan, kasus penularan penyakit HIV/AIDS di Papua, terutama Nabire, semakin mengkhawatirkan. Laju penularan HIV semakin tidak terkendali. Kondisi ini mulai mengancam keberlangsungan hidup suku asli di Papua.
“Memang Nabire ini tempat transit, dari tujuh kabupaten di kawasan pegunungan ini harus singgah di sini, besar kemungkinan ini juga persoalan,” katanya.
Kepala Labratorium Poliklinik, Fransiska Resti Astute mengatakan, sejak Januari hingga Februari 2017 tercatat 50 penderita HIV yang berobat ke polikliniknya.
“Virus itu lebih banyak menyerang warga berusia 14-29 tahun, ya anak-anak sekolah,” ujarnya.
Karena itu, tambahnya, wajar saja banyak kejadian pelajar SMP sudah melakukan seks pra menikah. Kalau usia seperti itu bisa tertular tidak menutup kemungkinan yang terinfeksi virus ini akan bertambah.
Ia mengaku, pria dewasa tak pernah datang melakukan tes darah, namun pihaknya mengajurkan agar diwajibkan datang untuk melakukan tes. (*)





