Solidaritas mahasiswa Manokwari serahkan bantuan bagi masyarakat Maybrat di pengungsian

Solidaritas mahasiswa Kabupaten Manokwari, Papua Barat menyerahkan bantuan
Solidaritas mahasiswa Kabupaten Manokwari, Papua Barat menyerahkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat sipil Maybrat di lokasi pengungsian - Jubi/dokumentasi pribadi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Manokwari, Jubi – Solidaritas Mahasiswa Kabupaten Manokwari Peduli Kemanusiaan Maybrat menyerahkan langsung pakaian layak pakai beserta uang tunai kepada masyarakat sipil di tiga lokasi pengungsian di wilayah Distrik Aifat Utara, Kabupaten Maybrat, Papua Barat.

Bram Sokof, koordinator umum solidaritas mahasiswa, mengatakan bahwa pakaian beserta uang tunai yang diserahkan diperoleh dari aksi donasi kemanusiaan peduli Maybrat yang digelar pada September lalu.

Read More

“Kami punya kerinduan untuk mengantar sendiri hasil donasi ini diserahkan langsung kepada masyarakat di lokasi pengungsian, dan itu sudah kami lakukan pada tanggal 11 Oktober lalu,” ujar Bram, Selasa (26/10/2021).

Dia mengatakan bantuan pakaian layak pakai hasil donasi mahasiswa didistribusikan langsung ke tiga titik pengungsian di wilayah Aifat Utara, yaitu Kampung Ayawasi, Kampung Mowes, dan Kampung Bori.

Selain menyerahkan bantuan, Bram bersama tim juga mencatat berbagai keluhan masyarakat Maybrat di pengungsian terutama di wilayah Aifat Timur yang menjadi lokus penyisiran, tidak ada aktivitas pendidikan maupun pelayanan kesehatan.

“Masyarakat di wilayah Aifat Timur kesulitan mendapatkan layanan kesehatan dan Pendidikan. Sebagian anak-anak usia sekolah diungsikan ke Distrik Aifat Utara untuk mendapatkan layanan pendidikan,” kata dia.

 

Solidaritas mahasiswa Kabupaten Manokwari, Papua Barat menyerahkan bantuan
Solidaritas mahasiswa Kabupaten Manokwari, Papua Barat menyerahkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat sipil Maybrat di lokasi pengungsian – Jubi/dokumentasi pribadi

Linda Mote, mahasiswi peduli kemanusiaan Maybrat, menyatakan turut prihatin terhadap kaum hawa dan anak-anak yang masih bertahan di lokasi pengungsian.

Linda mengatakan bahwa upaya penegakkan hukum dengan penebalan aparat bersenjata mengejar para DPO kriminal di Maybrat, Papua Barat, tak boleh berlebihan, karena akan berdampak traumatis terhadap perempuan dan anak-anak.

“Saya sebagai perempuan ikut merasakan kesulitan dan penderitaan yang dialami perempuan dan anak-anak di lokasi pengungsian. Saya minta aparat tidak berlebihan, karena akan membuat masyarakat semakin trauma,” ujar Linda.

Baca juga: Usai pengedropan pasukan di Maybrat, 17 sekolah berhenti beraktivitas dan warga sulit akses internet

Sementara, Erik Aliknoe, senior solidaritas mahasiswa Manokwari peduli, mengatakan bahwa aksi kemanusiaan yang digelar oleh mahasiswa adalah murni untuk kemanusiaan.

“Aksi kami ini murni untuk kemanusiaan, tidak ada unsur politik atau kepentingan lain, karena kami kaum intelektual yang independen,” kata Aliknoe.

Hal itu dikataka Aliknoe karena sempat terhambat aturan dan pengamanan aparat di wilayah Maybrat saat mahasiswa hendak mendistribusikan bantuan kepada masyarakat di tiga lokasi pengungsian di Aifat Utara.

“Kami sempat terhambat, tapi akhirnya kami bisa bertemu masyarakat dan menyaksikan kondisi mereka di sana,” ujarnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Related posts

Leave a Reply