Papua kekurangan vaksin korona, dr. Aaron:Hanya diberi 62 ribu dosis

Papua
Ilustrasi webinar series melawan infodemik covid-19- IST

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Kepala Bidang Penangananan dan Pencegahan Penyakit di Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Aaron Rumainum mengatakan Papua kini kekurangan vaksin.

”Dapat dibayangkan bagaimana jika semua warga Papua ingin divaksinasi. Dinas Kesehatan Papua dan para pihak terkait tentu bingung bagaimana cara mengatasi kekurangan vaksin,” ujarnya, Jumat (9/4/21).

Read More

Pernyataan itu dikatakan dr. Aaron Rumainum dalam webinar daring, yang diselengarakan Aliansi Jurnalis Independen Indonesia itu dengan tema “Melawan Infodemik Covid-19” “Menangkal Mis-Disinformasi vaksinasi di Papua.”

Rumainum mengakui, hingga kini masih ada ratusan tenaga kesehatan di sejumlah rumah sakit di Kota Jayapura yang belum divaksinasi. Sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua juga belum menerima vaksin.

Akan tetapi katanya, masyarakat sejumlah daerah di Papua sudah banyak yang menyadari pentingnya vaksin. Misalnya di Kota Jayapura, Mimika, Merauke, dan Kabupaten Jayapura.

“Kita diberi jatah 56 ribu dosis, ditambah enam ribu dosis, disuruh habiskan dalam 15 hari. Kalau hanya 62 ribu dosis harus kasi Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Merauke, ini habis,” ucapnya.

Sementara, Praktisi media di Papua, Victor C Mambor mengatakan media atau jurnalis di Papua adalah garda terdepan meminimalisir disinformasi dan misinformasi berkaitan dengan vaksinasi.Sebab di Papua selalu banyak isu yang beredar di masyarakat. Isu itu paling cepat menyebar lewat media sosial dan masyarakat yang tahu apa apa percaya saja.

“Di sinilah diperlukan peran media dan wartawan memberikan informasi yang benar kepada masyarakat, melalu pemberitaan dengan narasumber yang tepat,” kata Mambor.

Akan tetapi jurnalis itu sendiri mesti membangun rasa percaya diri meyakini virus korona memang ada dan vaksin itu penting. Wartawan kata Mambor, mesti benar-benar mamahami sebelum memberikan informasi kepada warga.

“Memang perlu waktu bagi kita untuk percaya. Sulit kalau publik ingin informasi baik mengenai korona ini tapi dalam media kita sendiri belum clear. Masih ada pihak yang tak percaya korona dan vaksin. Jadi pertama mesti membangun kesadaran awak redaksi, itu mesti clear,” ujarnya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Related posts

Leave a Reply