Bupati Jayapura: Topi Cenderawasih tidak dikenakan pada tamu PON XX

Papua
Bupati Jayapura Mathius Awoitauw saat diwawancarai media di Sentani - Jubi/Engel Wally.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi –  Bupati Jayapura Mathius Awoitauw menegaskan, penjemputan setiap tamu yang datang dalam penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional ( PON) XX di Kabupaten Jayapura, Papua, tidak diberikan atau dipakaikan topi atau mahkota yang terbuat dari bulu cenderawasih.

Mathius juga mengatakan, Pemerintah Daerah sudah lama melarang masyarakat untuk melakukan perburuan terhadap Burung Cenderawasih yang merupakan satu-satunya burung dengan keindahan warna bulunya hingga disebut sebagai burung surga.

Read More

“Bulu cenderawasih biasanya digunakan oleh seorang ondofolo, sehingga topi atau mahkota tersebut tidak bisa diberikan atau dipakaikan kepada orang lain yang bukan turunan ondofolo,” ujar Bupati Mathius di Sentani, Senin (6/9/2021).

Dikatakan, perhelatan PON XX adalah ajang pembuktian setiap Daerah di Indonesia dalam bidang olahraga, sehingga dalam penggunaan mahkota atau topi dari bulu Cenderawasih sama sekali tidak digunakan.

Penggunaan mahkota burung Cenderawasih akan digunakan oleh para penari atau tamu-tamu yang datang dan membeli dari masyarakat adalah burung Cenderawasih imitasi yang di desain sebagai kebutuhan cinderamata yang dijual oleh pengrajin atau pengusaha lokal kita.

“Bulu kasuari atau yang imitasi juga akan disiapkan bagi penjemputan tamu-tamu yang datang. Termasuk penjemputan bagi presiden Jokowi akan menggunakan pakaian adat sentani  untuk mengelilingi danau sentani,” ujarnya.

Menurutnya, pelarangan atau seruan yang disampaikan terkait pengggunaan topi burung Cenderawasih saat ini oleh berbagai kalangan sangat penting dan harus mendapat perhatian serius oleh semua pihak.

Tetapi dalam kondisi saat ini ( menjelang PON XX) seperti ada satu gerakan bersama yang tiba-tiba dan spontan muncul kepermukaan.

Saat iven PON XX mulai dekat dengan waktu pelaksanaan, bahkan pelarangan seperti ini tidak disampaikan pada iven-iven lokal lain seperti festival budaya dan sebagainya.

” Pada prinsipnya apa yang disampaikan dan serahkan bahkan dikampanyekan terkait bulu cenderawasih kami sangat dukung, tetapi pelaksanaan iven PON XX juga sangat penting sehingga fokus dan perhatian semua pihak harusnya kepada pelaksanaan iven nasional ini,” ungkap Awoitauw yang juga Ketua Umum Sub PB PON Kabupaten Jayapura.

Kata dia, topi Cenderawasih bagi masyarakat adat hanya digunakan oleh Kepala suku atau Ondoafi, dan itu memiliki nilai budaya serta makna bagi seorang pemimpin.

Topi Cenderawasih yang sama juga sudah diperjual belikan sebagai nilai ekonomi, untuk kepentingan PON XX sebagai souvenir atau hasil kerajinan tangan hanya dalam bentuk imitasi.

“Sudah kami sampaikan kepada masyarakat untuk tidak menggunakan bulu cenderawasih sebagai hasta karya ataupun souvenir yang akan dijual belikan saat pekan olahraga nasional berlangsung,” ucapnya.

Sementara itu, satu di antara Tokoh Masyarakat Adat Sentani, Maurits Frits Felle mengatakan, penggunaan mahkota dari bulu Cenderawasih bagi masyarakat adat di Papua secara umum dan Sentani pada khususnya, sangatlah sakral dan tidak bisa dipindahkan atau digunakan, disematkan kepada orang yang bukan sebagai Kepala Suku maupun Ondoafi.

“Jika ada kepala suku atau ondoafi yang dengan sengaja memberikan atau memakaikan topi kepala suku ( topi dari bulu cenderawasih) kepada orang lain, itu sama saja dengan memindahkan semua kekuasaannya kepada orang yang dipakaikannya. Karena seorang kepala suku atau ondoafi dengan topi bulu cenderawasih di atas kepalanya menggambarkan satu pemerintahan adat yang didalamnya ada batas wilayah, masyarakat, serta aturan yang dijalankan,” terangnya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Related posts