Menjual mahkota cenderawasih untuk selamatkan burung khas Papua

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Sentani, Jubi – Fredika Rumkorem punya cara sendiri menyelamatkan burung cenderawasih. Perempuan asal Biak ini membuat mahkota berbentuk kepala cenderawasih dari bahan-bahan bekas dan menjualnya.

Fredika yang juga mahasiswi semester tiga Jurusan Seni Tari, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua, membuat dua jenis mahkota dengan harga berbeda. Topi atau mahkota berhias bulu kasuari dijual Rp300 ribu dan berhias bulu ayam Rp200 ribu.

“Saya menjualnya setiap ada festival dan acara-acara di hotel, hasilnya saya gunakan untuk tambahan biaya kuliah,” katanya kepada Jubi pada Selasa (6/12/2016).

Ia membuat kerajinan tangan ini bersama tantenya sejak duduk di bangku SMP pada 1990-an. Usahanya tidak pernah berhenti sampai sekarang. Ia membuat mahkota dari berbagai bahan, seperti sisik ikan, sayapnya dari daun-daun kering, dan untuk badannya dari gabus bekas.

“Pertama kali kami datang ke Jayapura tidak ada yang membuat mahkota seperti ini, padahal di sanggar tari para penari dan pemain musik harus memakai mahkota cenderawasih, akhirnya saya buat sendiri,” ujarnya.

Ia benar-benar membuat berdasarkan kreasi sendiri. Tidak pernah diajarkan sanggar atau mendapatkan pelatihan.

Meski mahkota mirip burung, namun tidak berbahan dari burung yang dilindungi.Kecuali bulu kasuari yang menurutnya didapatkan jauh sebelum undang-undang perlindungan diberlakukan. Namun ia berencana akan mengganti bulu kasuari dengan ijuk.

Tak hanya mahkota, Frederika juga menjual imitasi anggrek khas Papua untuk dijual kepada wisatawan. Tujuannya juga melindungi anggrek papua dari kepunahan.

Rektor ISBI Prof. Dr. I Wayan Rai. S, MA saat dikonfimasi Jubi tentang kegiatan mahasiswinya, berjanji akan mencarikan instruktur profesional mendukung usaha Frederika.

“Dengan bimbingan profesional ia bisa menyerap ilmu, sehingga Papua memilki sumber daya manusia yang tangguh dan multitalenta,” ujarnya. (*)

Related posts