Pakai baju adat, Mama Martina Waromi dayung itu perahu

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Nabire, Jubi – Perempuan Papua, bisa melakukan apa saja layaknya seorang pria. Dalam kesehariannya sebagai ibu rumah tangga, mengurus suami serta anak – anaknya, mereka juga bisa bekerja dan mengambil alih pekerjaan seorang pria.

Di Papua, perempuan biasa berkebun, menotok (mengolah) sagu, hingga memancing (khusus untuk mereka yang berada di pesisir pantai).

Martina Waromi salah satunya. Pada Festival seni budaya untuk perdamaian di Nabire, 6-7 Agustus lalu,dia ikut lomba dayung perahu.

Mama Martina Waromi dan temannya yang ikut lomba, jadi satu – satunya peserta perempuan.Mereka mewakili tim PKK tingkat Distrik Napan.

“Kami mewakili tim PKK Distrik Napan. ” tutur perempuan yang kesehariannya diisi dengan menotok sagu dan memancing ini, kepada Jubi Sabtu ( 11/8/2018) lalu.

Mama Martina Waromi mengaku tidak malu dan gengsi saat lomba berhadapan dengan kaum pria. sebab perempuan Papua yang ada di pesisir pada umumnya bisa mendayung dan memancing.

“Ini bagian dari budaya kami, jadi tidak perlu malu,” katanya.

Dia berharap ke depan, terus ada lomba -lomba seperti ini. Apalagi jika lomba itu menyangkut budaya orang Papua.

“Bila perlu ada lomba dayung khusus untuk perempuan,” harap Martina.

Robeca Marei, koordinator tim Penggerak PKK Distrik Napan menabahkan, selain menurunkan peserta pria dalam lomba dayung, ada juga peserta perempuan. Pihaknya mendaftar setelah mendapatkan surat edaran dari panitia.

Kata Rebeca, dua ibu yang turun di lomba dayung pekerjaan utamanya adalah memancing dan menotok sagu. Maka mereka siap saat dan mengikuti lomba.

Pada ajang tersebut, kedua mama meraih juara favorit, karena selain satu – satunya peserta perempuan, mereka menggunakan pakaian adat di saat berlomba.

Lanjutnya, mereka perempuan Napan juga ingin maju seperti perempuan di daerah lain. Dia berharap ke depan ada bantuan khusus dari pemerintah, untuk perempuan nelayan atau petani

“Jangan hanya kasih laki – laki saja bantuan, ” katanya.

Mario Duwiri, penanggung jawab lomba mengatakan pihaknya kaget ketika saat pendaftaran ada ibu – ibu yang ingin mengikuti. Mau tidak mau, pihaknya menerima dan mengakomodir dua ibu tersebut.

“Kita akomodir mereka. karena dayung juga merupakan aktifitas keseharian masyarakat pesisir,” ujarnya.

Dikatakan, lomba dimaksud bertujuan memotivasi dan memberikan pemahaman tentang budaya dan adat masyarakat pesisir. Sehingga ada pesan kepada anak cucu sebagai generasi penerus bahwa budaya perlu dilestarikan.

”Jangan sampai anak cucu nanti tidak tahu dayung,” katanya. (*)

 

 

Related posts

Leave a Reply