Legenda voli Kartika Monim kecewa karena Papua banyak rekrut “atlet jadi” dari luar

Atlet Legendaris Papua
Dua atlet legendaris Papua, Kartika Monim dan Ernny Sokoy saat membawa api PON XX Papua. - Jubi/Enggel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Legenda hidup bola voli Papua, Kartika Monim menilai pembinaan dan regenerasi atlet di Papua menjadi pekerjaan rumah untuk meningkatkan prestasi Papua dalam kompetisi olahraga seperti Pekan Olahraga Nasional atau PON. Monim menyoroti banyaknya “atlet jadi” dari luar Papua yang direkrut sebagai bagian dari kontingan di Papua, sementara di Papua banyak bakat olahraga yang belum dibina dengan baik.

Kartika Monim yang pernah membela tim nasional voli Indonesia dalam SEA Games mengaku kecewa melihat praktik merekrut “atlet jadi” dari luar Papua. Ia ingin pembinaan olahraga di Papua, mengingat di Papua ada banyak anak yang berbakat namun kurang mendapat pembinaan. Ia menyebut pembinaan olahraga justru berjalan lebih bagus saat Papua masih dikenal sebagai Provinsi Irian Jaya.

Read More

“Saya sangat kecewa, karena pada PON XX Papua ada banyak pemain yang dari luar. Padahal orang asli Papua itu mampu. Kami dulu yang mewakili Irian Jaya, [saat itu atlet Irian Jaya] bukan pemain dari luar. Kami itu pemain dari kampung, tapi kami bisa berusaha,” kata Monim kepada Jubi di Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura, Selasa (11/10/2021).

Baca juga: Cabor gulat PON XX: Target Papua raih emas tercapai

Monim menilai Papua memiliki banyak anak yang berbakat menjadi atlet berbagai cabang olahraga. Akan tetapi, anak-anak Papua yang berbakat olahraga itu harus dipoles dengan pembinaan yang berkesinambungan, hingga mereka menjadi atlet handal.

“Kami itu sebenarnya bisa, Cuma kami kurang di pembinaan saja. Satu hal yang saya lihat kurang bagus itu, kalau Papua ambil pelatih dari luar. [Kelemahan pelatih dari luar] karena orang luar itu tidak membina dengan baik [secara jangka panjang. Yang mengetahui] karakter orang Papua itu hanya orang Papua. Kalau ambil orang luar, dia hanya berfikir kontraknya saja, dan dia tidak akan meninggalkan pengalamannya [untuk mengembangkan pembinaan di Papua,” kritik Monim.

Ia mengkritik semboyan “Torang Bisa” dalam PON XX Papua, karena tuan rumah Papua justru banyak merekrut “atlet jadi” dari luar Papua. “Kita punya moto ‘Torang Bisa’ ini pantas kalau kita punya orang Papua yang bermain. Kenapa ambil atlet dari luar Papua? Orang Papua masih banyak, ini gudang atlet. Bila perlu, ambil pelatih dari luar negeri untuk latih kita di Papua,” kata Monim.

Monim mengingatkan praktik merekrut “atlet jadi” cenderung membuang banyak uang, dan membuat setiap induk organisasi cabang olahraga mengabaikan pembinaan atlet muda. Ia berharap induk cabang olahraga mau memperbaiki pembinaan atlet muda, untuk mengembalikan kejayaan atlet Papua yang pada masa lalu mampu berprestasi hingga di tingkat internasional.

Baca juga: Agus Prayogo raih hattrick medali emas nomor lari jarak jauh PON XX Papua

“Pada tahun 1980-an, kami berusaha  untuk Tanah Papua, berjuang itu seperti untuk kami punya kampung sendiri, berjuang mati-matian. Pembinaan bagi generasi sekarang itu harus ada, karena semua [prestasi] itu tergantung dari pembinaan dan pelatih. Kalau pembinaan bagus, semuanya ke depan bagus,”  tutur Monim.

Legenda cabang olahraga dayung Papua, Erny Sokoy juga berpesan agar generasi muda asli Papua rajin dan tekun berlatih olahraga, demi mengembalikan kejayaan atlet Papua dalam kompetisi di tingkat nasional maupun internasional. Ia juga menekankan pembinaan atlet usia muda menjadi kunci agar Papua memiliki prestasi dan regenerasi atlet yang berkelanjutan.

“Untuk generasi yang sekarang yang belajar dayung, mari silahkan. Kami ini mengajarkan dengan bebas, jadi adik-adik dari seluruh Tanah Papua [mari berlatih], agar ke depan itu masih ada lagi [atlet dayung dari Papua]. Jangan hanya dari Serui, Wamena, Sentani. Saya bangga dengan kaka Perlina Karoba yang sudah tembus ke Olimpiade. Kami sangat bangga sekali. Saya berharap generasi yang akan datang itu bisa tampil menjadi duta Indonesia lagi,” ujarnya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Related posts

Leave a Reply