
Jayapura, Jubi – Kabupaten Yahukimo, Papua pernah memiliki rumah sakit bertaraf internasional pada dekade 1961 – 1970 an. Anggota DPR Papua dari Daerah Pemilihan Yahukimo, Natan Pahabol mengatakan, rumah sakit itu adalah Rumah Sakit (RS) GKI Effata, yang dibangun para misionaris di Distrik Anggruk pada 1961.
Namun kini lanjut dia, kondisi rumah sakit tersebut memprihatinkan. Berbagai peralatan kesehatan peninggalan para misionaris rusak akibat tak pernah digunakan, lantaran tak ada tenaga medis.
“Dulunya, rumah sakit itu merupakan rumah sakit rujukan, karena fasilitasnya dan dokternya lengkap. Orang sakit dari Jayapura, hingga PNG dirujuk ke RS GKI Efata ditahun itu. Namun kini kondisinya memprihatinkan,” kata Natan Pahabol, akhir pekan lalu.
Menurutnya, kini kondisi rumah sakit itu dijaman Otonomi Khusus (Otsus) berbalik. RS GKI Efata dibiarkan tak terurus.
“Malah pemerintah setempat membangun Puskesmas di dekat RS Efata. Tapi bangunan itu hanya bertahan dua tahun dan rusak parah,” ucapnya.
Katanya, melihat kondisi itu, Kepala Dinas Kesehatan Papua, Aloisius Giay ketika berkunjung ke Yahukimo dua pekan lalu. memberikan bantuan Rp 500 juta untuk keperluan rumah sakit.
“Beliau juga mengirim bantuan satgas pelayanan kesehatan kaki telanjang di Anggruk,” katanya.
Pada suatu kesempatan, anggota Komisi V DPR Papua bidang pendidikan dan kesehatan, Gerson Soma mengatakan hampir semua kabupaten di Papua yang wilayahnya sulit dijangkau mengalami masalah yang sama dibidang kesehatan. Mulai dari tenaga medis yang masih minim dan jarang berada di tempat, fasilitas penunjang yang tak memadai, hingga pelaralatan medis dan ketersediaan obat-obatan.
“Padahal kesehatan masyarakat Papua adalah hal paling penting, selain pendidikan. Kondisi seperti itu tak bisa terus dibiarkan. Perlu ada langkah kongkrit yang diambil semua pihak terkait,” kata Gerson Soma kala itu. (Arjuna Pademme)