Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Gangguan jaringan internet di Kota Jayapura, Papua sejak putusnya kabel laut SMPCS ruas Biak-Sarmi pada 30 April 2021 berdampak serius kepada dunia pendidikan di ibu kota Provinsi Papua tersebut.
Salah satu dampaknya terhadap penerimaan siswa baru Sekolah Menengah Keguruan (SMK) di Jayapura, Papua yang telah diputuskan melalui sistem online.
Karena sekolah dan para pendaftar tidak bisa mengakses internet, beberapa SMK di Jayapura, Papua akhirnya memutuskan melakukan penerimaan siswa baru secara offline atau langsung di sekolah.
Sekeretaris Panitia Penerimaan Siswa Baru SMK Negeri 3 Jayapura, Papua Yuli Ansanai mengatakan sejak internet terganggu sekolahnya memutuskan menerima siswa baru secara offline.
BACA JUGA: Internet mati di Jayapura, bagaimana belajar online?
“Penerimaan online terakhir 29 April 2021 dan dari jaringan internet mulai terganggu sampai sekarang penerimaan dilakukan offline,” katanya kepada Jubi di Jayapura, Papua, Senin, 31 Mei 2021.
SMK Negeri 3 Jayapura, Papua mulai membuka penerimaan secara offline sejak 3 Mei 2021. Dengan mempertimbangkan sejak internet terganggu siswa baru dan orang tua mulai berdatangan ke sekolah.
“Sementara jaringan tidak ada, mau tidak mau mereka (siswa) datang, tidak mungkin mereka datang kita suruh pulang, kemudian kebanyakan kami perhatikan ada yang dari Lere, dari Arso. Terkadang juga ada orang tua mewakili ambil fomulir sementara siswanya masih di luar, mereka datang mau minta fomulir, kalau kita bilang tutup kan tidak enak,” kata Ansanai.
Selain itu, katanya, dari sekolah apabila menunda proses penerimaan siswa baru juga ikut berdampak pada proses belajar-mengajar di sekolah.
“Saat ini sudah akhir Mei, lalu Juni sudah harus pelaksanaan MOS dan harus sudah mulai KBM, makanya kita ‘back up’ secara offline karena ini kan banyak liburnya juga. Padahal bulan Juni harus sudah masuk dengan KBM, kemudian jaringan internet yang masih terganggu ini kan juga sangat mengganggu KBM,” ujarnya.
Sejak pendaftaran offline dibuka siswa yang mendaftar teracatat 300 siswa. Sedangkan yang sudah mendaftar secara online 85 orang.
“Yang daftar ini kami belum langsung terima, namun setelah pendaftaran kami adakan tes wawancara, di tes wawancara langsung di ‘back up’ masing-masing jurusan untuk melihat dan menilai siswa seperti apa yang akan masuk ke jurusan tersebut, itu nanti jurusan yang menentukan dan memilih,” katanya.
Ansanai mengatakan pendaftaran offline akan ditutup apabila kuota sudah mencapai batas 600 siswa. Mereka akan mengisi delapan jurusan dengan 12 program keahlian yang dibagi per kelas 36 siswa.
“Dari tahun ke tahun itu biasa 600 orang, tapi mungkin kita akan kasih batas sampai 700 untuk mem-‘back up’ andaikan ada yang tidak melanjutkan melengkapi berkas,” ujarnya.
Ansanai berharap Telkom segera memperbaiki kerusakan sehingga kegiatan online bisa dilakukan lagi.
“Kasihan pada saat penerimaan begini siswa yang dari kabupaten, misalnya dari Pegunungan, terus ada dari Taja Lere menelepon untuk meminta tolong kami mendaftar sementara jaringan tidak ada sehingga itu yang membuat kendala kami juga,” katanya.
Penerimaan siswa baru secara offline juga dilakukan SMK Negeri 5 Jayapura, Papua. Panitia penerimaan siswa baru di sekolah tersebut, Rianto Sinaga mengatakan awalnya sekolahnya melakukan penerimaan online dan offline. Hanya saja, setelah jaringan internet terganggu penerimaan siswa dilakukan secara offline saja.
“Seharusnya memang online, tapi internet mati jadi offline. Orang tua beserta siswa atau siswa sendiri datang ambil fomulir setelah itu diisi baru dikembalikan ke sekolah,” ujarnya.
SMK Negeri 5 Jayapura telah melakukan penerimaan siswa baru secara offline sejak 15 April 2021. Penerimaan akan berlangsung hingga 25 Juni 2021. Hingga kini yang sudah mendaftar secara offline sebanyak 150 siswa dan yang khusus mendaftar online hanya dua siswa.
“Variatif juga jumlahnya, dari tahun ke tahun kadang 120, ada 130 sampai 150 siswa yang nanti akan mengisi lima 5 jurusan dengan per kelas 25 siswa,” katanya.
SMK Negeri 5 Jayapura, kata Sinaga melaksanakan penerimaan siswa secara offline kerena mempertimbangkan kemampuan ekonomi siswa dan sebagian siswa berasal dari pedalaman kabupaten.
“Saya jadi panitia dari beberapa tahun memang keadaan begitu, tidak semua siswa kemampuan sama. Setahu saya tidak semua siswa juga dari kota, ada juga siswa dari pegunungan yang tidak punya hand phone berbasis android,” katanya.
Sinaga menjelaskan di sekolahnya asal siswa bervariasi. Ada dari daerah pegunungan, Arso, dan dari Senggi.
Jaringan internet yang terganggu sejak 30 April 2021, kata Sinaga, merugikan banyak pihak. Sekolah tidak bisa memantau pendaftaran siswa secara online untuk dijadikan data perbandingan dengan pendaftaran offline.
“Kita tidak bisa memantau berapa siswa yang minat mendaftar secara online,” katanya.
Sinaga berharap Telkom secepat memperbaiki kerusakan.
“Kita guru ini posisi mau pendaftaran ujian profesi guru terhambat. Kita bingung jadi informasinya kapan? Saya ini mau ujian profesi guru, harusnya 25-26 Mei sudah mendaftar, tapi ini tidak bisa. Saya ke Telkom mau daftar juga tidak bisa, setengah jam buka tidak bisa masuk ke situsnya juga,” ujarnya. (*)
Editor: Syofiardi






