Ini pesan penggagas usulan noken sebagai warisan budaya tak benda UNESCO kepada Jokowi

papua
Mama-mama penjual noken dan aksesori dari wilayah Meepago yang berdomisili di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. --Jubi/Theo Kelen.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Nabire, Jubi – Penggagas usulan noken menjadi Warisan Budaya Tak Benda, Titus C Pekei mengatakan Presiden Joko Widodo telah beberapa kali mengenakan noken, bahkan memberikan noken sebagai cinderamata untuk Menteri Luar Negeri Selandia Baru Nanaia Mahuta. Pekei berharap Jokowi memahami bahwa tindakan Jokowi mengalungkan noken mengandung makna yang dalam, sekaligus menyimbolkan tanggung jawab Jokowi terhadap orang asli Papua.

Hal itu disampaikan Titus C Pekei dalam keterangan pers tertulisnya yang diterima Jubi pada Selasa (7/12/2021). Keterangan pers tertulis itu disampaikan dalam rangkaian peringatan sembilan tahun penetapan sebagai noken yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO pada 4 Desember lalu.

Pekei mengatakan rakyat Papua sangat mengingat bagaimana Presiden Jokowi membeli dua noken dari Mama Papua di pinggir jalan saat berkunjung ke Papua pada Oktober lalu. “Satu noken dikalungkan di leher, dan satunya di pundak. Kalau Pak Jokowi gantungkan noken di tubuhnya, [bagi orang Papua itu bermakna] Jokowi [mengambil] semua persoalan yang terjadi di Tanah Papua sebagai tanggung jawabnya,” kata Pekai dalam keterangan pers tertulisnya.

Baca juga: Titus Pekei sebut noken sumber inspirasi dari Tuhan

Pekai juga menyoroti langkah Jokowi yang memberikan noken sebagai cinderamata untuk Menteri Luar Negeri Selandia Baru Nanaia Mahuta saat Mahuta berkunjung ke Istana Merdeka, Jakarta, pada 15 November 2021 lalu. Pekei berharap Jokowi memahami filosofi memberikan noken kepada orang lain.

“Semoga tidak dillihat hanya sebatas cinderamata, tapi bagaimana pengakuan akan kearifan lokal orang asli Papua. Itu penting mendalami nilai, makna, fungsi filosofis noken. Dalam pemerintahannya, badan usaha berinvestasi di atas tanah hak ulayat masyarakat adat. [investasi] telah terbukti meniadakan keanekaragaman hayati, kebiasaan hidup rakyat terancam,” kata Pekei.

Pekei adalah penggagas usulan noken ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, dan usulan Pekai itu terwujud pada 4 Desember 2012. Pekei mengingatkan kelestarian noken sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO sangat bergantung kepada kelestarian hutan yang menjadi sumber berbagai jenis tumbuhan bahan baku noken. Pekei menyesalkan pemerintah yang menerbitkan berbagai izin investasi yang membuka hutan alam Papua.
“Hutan paru-paru bumi di Tanah Papua terus berubah secara sadar, sengaja. Pelanggaran hak asasi manusia pun terus terjadi tanpa solusi damai. Hutan tropis Papua mesti diselamatkan [agar tidak terjadi] pemusnahan kehidupan ekologis [yang menjadi bahan baku] noken dan juga kehidupan di Tanah Papua,” katanya.

Pekei menyatakan berbagai kebijakan yang dibuat pemerintah, termasuk kebijakan untuk terus mendorong pemekaran dan pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) justru meningkatkan risiko kehancuran hutan di Tanah Papua. “Pemekaran, Daerah Otonomi Baru (DOB) di tujuh Wilayah Adat [Tanah] Papua hanya [akan] menjadi masalah baru, [termasuk] dalam konservasi [alam serta hutan sebagai sumber bahan baku] noken,” katanya.

Pekei menyayangkan pemerintah tidak terlibat dalam memperingati 4 Desember sebagai hari penetapan noken sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Ia membandingkannya dengan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional atau PON XX Papua yang megah.

“Perajin noken, Mama Papua hadir memeriahkan PON XX Papua. Lalu mengapa pada 4 Desember 2021 pemerintah Indonesia, baik pusat maupun daerah, tidak merayakan hari noken sedunia itu semeriah PON Papua,” kata Pekei.

Pekei berharap Jokowi yang telah mengalungkan noken di tubuhnya menyadari tanggung jawabnya sebagai pemimpin, termasuk dalam menyelamatkan orang Papua dan berbagai warisan budaya orang Papua. Menurutnya, pemahaman tentang nilai noken itu harus diwujudkan Jokowi dengan membuat kebijakan yang berpihak kepada orang asli Papua.

Baca juga: Perajut minta noken dimasukkan ke dalam Muatan Lokal di sekolah

Dikutip dari laman Sekretariat Kabinet RI, pada 15 November 2021 Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Nanaia Mahuta di Istana Merdeka, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Presiden menyampaikan sejumlah hal, utamanya mengenai kerja sama di dan dengan Pasifik.

Presiden Jokowi menyebut bahwa Selandia Baru adalah mitra penting Indonesia di Pasifik. Oleh karena itu, Presiden ingin agar kemitraan ini terus dapat diperkuat. “Terima kasih atas dukungan Selandia Baru pada Pacific Exposition ke-2 yang dilakukan secara virtual,” ujar Jokowi.

Saat itu, Jokowi menegaskan bahwa Indonesia akan memberikan perhatian khusus kepada Pasifik selama presidensi Indonesia di G20 tahun depan. Presiden Jokowi mengatakan bahwa perwakilan dari negara-negara Pasifik akan diundang dalam KTT G20, Oktober tahun depan.

“Dalam COP-26 minggu lalu Indonesia secara khusus juga membawakan suara negara-negara kepulauan kecil yang tergabung dalam AIS (Archipelagic and Islands State),” kata Jokowi. Jokowi kemudian memberikan noken sebagai cinderamata untuk Nanaia Mahuta. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Leave a Reply