Filipina datangkan rudal supersonik BrahMos, menopang pertahanan di Laut Cina Selatan

Papua, Rudal
Ilustrasi, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi — Filipina membeli paket rudal supersonik anti-kapal BrahMos senilai US$375 juta atau setara Rp5,3 triliun dari India. Belanja alat perang itu disebut sebagai upaya menopang pertahanannya di Laut Cina Selatan yang kini tengah dipersengketakan dengan Cina.

Read More

Pada Jumat, Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana merilis sebuah dokumen melalui media sosial yang menunjukkan bahwa Manila telah menyetujui akuisisi sistem rudal berbasis darat untuk Angkatan Laut Filipina dari BrahMos Aerospace Private Ltd.

“Sebagai kepala entitas pengadaan (HOPE), saya baru-baru ini menandatangani Pemberitahuan Penentuan untuk Proyek Akuisisi Rudal Anti-Kapal Pesisir Angkatan Laut Filipina,” kata Lorenzana di Facebook, seperti dikutip dari Radio Free Asia, Selasa (18/1/2022).

Baca juga :  Ini alasan Dueterte enggan perang lawan Cina
Sengketa wilayah dengan Jepang, Rusia kerahkan sistem rudal
Mulai tahun depan Korsel gunakan rudal balistik kapal selam lokal

Ia menyebut akuisisi itu telah melewati negosiasi dengan pemerintah India. Akuisisi itu juga termasuk pengiriman tiga baterai, pelatihan untuk operator dan pengelola, serta paket Dukungan Logistik Terintegrasi (ILS).

Organisasi Penelitian dan Pengembangan Pertahanan India mengatakan bahwa rudal BrahMos telah melakukan uji coba pada Jumat (14/1/2022) lalu. “Rudal mengenai kapal target yang ditentukan dengan tepa,” ujar badan tersebut.

Analis regional Collin Koh menilai India merupakan ‘pendatang baru’ dalam permainan rudal anti-kapal supersonik Asia Tenggara setelah Rusia. Sementara Filipina, ujar Koh, menjadi negara Asia Tenggara ketiga setelah Indonesia dan Vietnam yang menyombongkan kemampuan rudal jelajah supersonik anti-kapalnya.

“Saya akan mengatakan bahwa ini lebih dari sebuah terobosan, ini jelas sebuah lompatan,” ujar Koh.

Para ahli memandang akuisisi BrahMos ini merupakan opsi yang baik bagi negara berkembang yang memiliki keterbatasan ekonomi untuk modal pertahanan negaranya.

“Ini adalah solusi hemat biaya bagi angkatan laut untuk memiliki kemampuan pertahanan laut,” ujar mantan laksamana angkatan laut Rommel Jude Ong pada BenarNews, Maret 2020, ketika Filipina dan India menandatangani perjanjian awal kesepakatan.

BrahMos punya kemampuan jangkauan 290 km atau 180 mil, akan memberikan penyangga pertahanan di batas ZEE tertentu.

“Ini memberi angkatan laut opsi ‘misi pembunuhan’ bila terjadi konflik,” kata Ong.

Ketegangan antara Manila dan Beijing diketahui mengalami peningkatan. Ketegangan tersebut terjadi karena kehadiran sekitar 200 kapal penangkap ikan di ZEE yang diduga diawaki oleh milisi Cina. Sejak bertahun-tahun, hubungan diplomatik antara Filipina dan Cina sering buntu. Meskipun ketegangan telah menurun, pejabat Filipina mengatakan kapal-kapal Cina masih tetap berada di perairan milik negaranya. (*)

CNN Indonesia

Editor : Edi Faisol

Related posts

Leave a Reply