Gara-gara dua Pasar Youtefa pendapatan jasa gerobak menurun drastis

pasar youtefa
Sukron menata belanjaan di atas gerobaknya. –Jubi/Theo Kelen.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pendapatan penyedia jasa gerobak angkat barang menurun drastis gara-gara Pasar Youtefa terbagi di dua lokasi, pasar lama dan pasar baru.

Read More

Pemerintah Kota Jayapura memindahkan pedagang dari pasar lama ke lokasi Pasar Baru Youtefa sejak 5 Desember 2020. Namun sebagian pedagang masih bertahan di pasar lama.

Sukron, penyedia jasa dorong gerobak di Pasar Youtefa mengatakan kondisi seperti itu berdampak kepada menurunnya pendapatannya secara drastis.

“Biasanya sehari kita dapat Rp250 ribu, tapi sekarang cuma Rp100 ribu,” katanya kepada Jubi, Selasa (29/12/2020).

Hal itu dialami Sukron sejak pasar baru Youtefa beroperasi, karena pedagang yang dulu semuanya berjualan di pasar lama menjadi terpisah, ada yang di pasar baru dan ada yang di pasar lama. Para pembeli pun ada yang berbelanja di pasar lama dan pasar baru.

“Yang kasih ramai pasar lama itu pedagang dari Arso dan Koya, sementara pedagang Arso dan Koya, sertapedagang ikan sudah pindah ke pasar baru,” kata pria asal Buton tersebut.

Dalam sehari Sukron hanya mendapatkan lima pelanggan. Padahal ia sudah bekerja dari pukul 04.30 WIT hingga pukul 18.00 WIT. Tarif sekali angkut Rp10 ribu hingga Rp20 ribu.

“Sebenarnya tarifnya pun tidak paten, dari Rp10 ribu hingga Rp20 ribu, ada juga yang kasih tinggi Rp50 ribu, tapi ada juga yang kasih rendah cuma Rp3 ribu hingga Rp5 ribu,” kata pria yang sudah lima bulan bekerja mendorong gerobak tersebut.

Namun Sukron tetap bertahan dengan pekerjaannya, karena baginya pekerjaan tersebut menyenang, tidak terikat dan tak ada yang memberi perintah.

“Bagusnya ini kan tidak ada yang perintah, kalau capek kita istirahat, tapi coba kerja bangunan kita diperintah,” katanya.

Ia berharap Pasar Youtefa kembali di satu lokasi sehingga para pedagang maupun pembeli tidak berpencar supaya pendapatan jasa gerobak bisa ikut membaik.

“Disatukan begitu supaya kita pun tidak kesana-kemari,” katanya.

Sebab dengan pasar di dua lokasi, Sukron harus berangkat ke pasar baru pada Subuh dari pasar lama. Setelah itu pukul 7 pagi ia balik lagi ke pasar lama.

“Harus naik ojek bayar Rp15 ribu, itu pulang-pergi sudah Rp30 ribu,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan pendorong gerobak lainnya, Sahar. Ia mengatakan sejak ada dua Pasar Youtefa pendapatannya mengalami penurunan. Dari sehari bisanya Rp200 ribu kini turun Rp50 ribu.

“Pelanggan kita pun sudah berpencar, ada belanja di pasar baru dan lama, saya punya pelanggan pun mulai berkurang, mungkin ada yang sudah belanja ke pasar Hamadi,” ujarnya.

Sahar berkerja mulai pukul 5 pagi hingga pukul 7 pagi di pasar baru subuh sampai pukul 7 pagi Youtefa. Setelah itu ia bekerja di pasar lama hingga pukul 7 malam.

“Saya dorong gerobak disesuaikan dengan fisik saya, karena ini yang bisa saya kerja, kalau memang sudah tidak bisa saya akan pulang kampung,” katanya.

Mama Merina asal Sentani mengatakan sering memakai jasa gerobak ketika berbelanja di pasar, karena sangat membantu dan tarifnya sangat terjangkau.

“Kita belanja banyak kalau pegang sendiri kan berat, kalau ada gerobak semua jadi ringan dan harganya terjangkau.

“Saya kalau pakai gerobak cepat bayar Rp10 ribu, tapi kalau lama saya bayar Rp20 ribu,” ujarnya. (Theo Kelen)

Editor: Syofiardi

Related posts