
Papua No. 1 News Portal | Jubi
Sentani, Jubi – Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, mengatakan anak-anak harus diberi ruang untuk mereka beraktivitas dan juga berkreasi meskipun di dalam lingkungan posko pengungsian.
“Psiko trauma healing programm yang biasa dilaksanakan oleh para pendamping anak, baik dari pihak gereja, masjid, Wahana Visi Indonesia, instansi teknis yang menangani langsung soal anak harus berjalan,” ujar Bupati Awoitauw, saat ditemui di kantornya, Jumat (12/4/2019)
Dikatakan, ada 80 peserta yang sudah dilatih untuk menangani persoalan anak. Kerja sama Wahana Visi Indonesia (WVI) dan pihak gereja. Tim ini yang sedang bekerja untuk pemulihan bagi anak-anak yang terkena dampak banjir bandang.
“Selain psiko trauma healing, ada juga pembagian makanan tambahan bagi anak-anak di setiap kampung sebagai tambahan asupan gizi. Ini akan terus berjalan di Kabupaten Jayapura,” katanya.
Sementara itu, Hanny Felle, pemilik Rumah Baca Yoboi, yang juga bagian dalam tim WVI untuk pemulihan anak-anak di setiap posko pengungsian, mengatakan kegiatan psiko trauma healing yang dilaksanakan kepada anak-anak lebih fokus kepada kegiatan menggambar dan mewarnai, serta penyusunan suku kata termasuk permainan yang sering dimainkan oleh anak –anak.
Menurutnya, hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan rasa jenuh dan juga perasaan was-was pasca bencana lalu.
“Anak-anak dalam usia produktif mereka, ketika dihadapkan dengan suatu tragedi yang besar seperti bencana banjir bandang ini, akan sangat sulit dilupakan dari ingatan mereka, dan ini akan menjadi luka dan trauma yang mendalam seumur hidup mereka, perlu ada pendampingan secara khusus dan memberikan ruang berkreasi bagi mereka,” ungkapnya. (*)
Editor: Dewi Wulandari





