Papua No. 1 News Portal | Jubi
Banda Aceh, Jubi – Beragam spesies fauna langka dan unik menghuni kawasan karst atau bebatuan kapur di Kabupaten Aceh Tamiang yang berada dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Tercatat alam karst itu rumah bagi 105 spesies mamalia, 382 spesies burung, serta setidaknya ada 95 spesies reptil dan amfibi. Jumlah tersebut merupakan 54 persen dari fauna terestrial Sumatera.
“Gua karst di Kabupaten Aceh Tamiang dihuni beragam spesies unik. Karena itu, keberadaan gua gamping atau batu kapur ini harus dijaga. Apalagi masuk KEL yang merupakan penyangga Taman Nasional Gunung Leuser,” kata pegiat lingkungan dari Lembaga swadaya masyarakat Kawasan Ekosistem Mangrove Pantai Sumatra (Kempra), Andi Muhammad Nur, Senin, (9/8/2021).
Baca juga : ProFauna minta sanksi tegas bagi penangkap ikan gunakan potas
Rusa Merauke bukan hewan endemik Papua
Monyet ekor panjang di Gunung Mher Teluk Youtefa belum jadi hama
Andi mengatakan spesies yang ada tersebut merupakan 54 persen dari fauna terestrial Sumatera. Sedangkan fauna atau satwa penghuni gua karst di hulu Aceh Tamiang umumnya kelelawar, laba-laba batu, walet, lipan dan jangkrik gua.
“Namun, bentuk fisik fauna di gua kasrt tersebut berbeda dengan di tempat lain,” kata Andi menambahkan.
Tak hanya hewan yang disebutkan itu, ia juga mengatakan kepiting air tawar pernah ditemukan di gua karst tersebut. Yang membedakan dengan spesies dari tempat lain, kepiting gua karst di Aceh Tamiang memiliki kaki lebih panjang. Selain itu ada juga predator penghuni mulut gua yakni ular piton serta harimau, meski jarang terlihat langsung.
Kawasan gua karst Aceh Tamiang dan kawasannya merupakan sebagai tempat terakhir untuk mempertahankan populasi spesies-spesies langka tersebut. Termasuk satwa lainnya seperti harimau, orangutan, badak, dan gajah sumatra, serta macan tutul.
Selain itu bentang alam karst Aceh Tamiang memiliki fungsi lainnya di antaranya menyediakan pasokan air yang konstan ke daerah sekitarnya serta sebagai pengatur iklim di wilayah pesisir pantai timur Provinsi Aceh.
“Kami berharap ada strategi dan aksi menjaga keseimbangan ekosistem pengelolaan kawasan bentang alam karst. Bentang alam karst ini juga bisa menjadi kawasan ekowisata dengan minat khusus,” kata Andi berharap. (*)
Editor : Edi Faisol





