Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1
Kasonaweja, Jubi – Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan kebutuhan dasar masyarakat Kabupaten Mamberamo Raya. Ibaratnya kalau tidak ada BBM sama seperti tidak makan. Demikian dikatakan Kepala Desa Kasonaweja Sumadji kepada Jubi, Minggu (14/5/2017).
“Yah, kalau tidak ada BBM kita tidak bisa berbuat apa-apa, di sini saja semua akses harus menggunakan perahu motor, baik dari Kasonaweja ke Burumeso atau ke kampung-kampung lainnya,” katanya.
Dikatakan, ia pernah mendengar melalui radio dan televisi, BBM satu harga untuk wilayah pengunungan Papua dan berharap jangan hanya wilayah pegunungan Papua saja yang diberikan BBM satu harga, tetapi wilayah Mamberamo juga.
“Pemerintah harus melihat daerah-daerah mana saja yang banyak menggunakan BBM dalam kehidupan sehari-hari mereka, di sini BBM sangat dibutuhkan dan harapannya apa yang sudah dirasakan saudara-saudara kita di wilayah pegunungan Papua juga bisa dirasakan masyarakat di sini,” ujarnya.
Terkait pasokan BBM, Sumadji mengatakan, tergantung kapal yang masuk ke wilayah tersebut dan tidak menentu.
“Kapal-kapal pengangkut BBM tersebut memang ada, namun tidak setiap waktu ada, kadang dua minggu baru datang dan paling lama satu bulan,” katanya.
Ia mengatakan, belum ada seorang pengusaha yang dipercayakan pemerintah untuk menangani jalur masuknya BBM ke wilayah Mamberamo Raya. Terkadang BBM masuk langsung diborong orang-orang yang memiliki modal besar, sehingga mengakibatkan masyarakat lainnya tidak kebagian jatah BBM tersebut.
“Kalau beli di kapal khusus di Kasonaweja, satu liternya Rp6.500 kalau eceran di pinggir jalan Rp20 ribu per liter, kalau di Burumeso, beli di kapal Rp13 ribu per liter tapi kalau eceran Rp23 ribu hingga 25 ribu per liter,” ujarnya.
Mansur warga Kampung Angreso, Distrik Mamberamo Tengah menilai tidak masuk akal harga BBM subsidi Rp6.500 per liter, tetapi di eceran Rp 20 hingga Rp25 ribu per liter. (*)





